Wednesday, December 25, 2013

Desember



Desember, tahukah kamu? Kini, aku menjadi gadis yang menyukai bersepeda diantara rintikan hujan. Karena hujan, aku tahu hangatnya sinar mentari pagi. Hujan pula membuatku tahu indahnya pelangi. Hujan juga membuatku lebih peka untuk mendeskripsikan perasaanku. Setiap guyurannya yang menetesi tubuhku, setiap itu pula aku mengeluarkan perasaanku melalui kosa kata.
Desember, apa kamu juga tahu tentang dirimu sebagai bulan di akhir tahun? Aku pun selalu bersyukur kepada Tuhan karena selalu diberikan nikmat untuk bisa bertemu denganmu dan dengannya. Meski aku tahu pertemuan itu berupa pertemuan akhir, tetapi tak sekalipun aku mengutuki takdir ini.
Desember, kamu menambah rentetan panjang dalam perjalanan hidupku. Perjalanan saat bersamanya pula. Aku pun masih bisa mengingat aroma tubuhnya. Aroma yang tipikal saat kuhirup dari jauh. Bukan aroma parfum apalagi deodoran. Aku juga masih mengingat saat dia tersenyum, rentetan giginya selalu mengingatkanku saat makan jagung. Rapi bukan main.
Aku masih ingat betul saat marah karena dia tidak mengiyakan pergi ke toko jam sebagai rutinitas ulang tahunku. Aku pikir dia sama saja dengan yang lainnya. Ternyata saat aku pulang dia memberikan sesuatu yang tak pernah kuduga. Jam berwarna oranye. Warna kesukaanku. Dia lebih istimewa dari yang kupikirkan.
Aku juga masih ingat saat berjalan jauh karena ban motornya bocor. Aku duduk dan mengibaskan bajuku, berharap ada celah udara yang bisa masuk mendinginkan tubuhku. Sungguh, aku tidak marah dan senang menemaninya. Lalu dia pergi, aku pikir dia merasa bersalah padaku. Namun, dia pergi hanya untuk membelikan tisu agar aku tidak merasa kepanasan lagi.
Desember, duduk bersamanya dan memandang lekat bintang gemintang adalah hal yang paling menyenangkan. Pernah saat kehujanan dan jaketku basah kuyup, dia memberikan jaketnya untukku dan memakai jaketku yang basah. Dia tersenyum. Aku pikir dia sedang mencoba menggodaku. J
Desember, setiap bulan berganti dari Desember 2011 ke Januari, Februari, Maret, dst. Aku selalu menuliskan tulisan untuknya. Bukan tulisan galau tentunya. Karena aku tahu, melalui tulisan dia bisa membaca setiap apa yang kurasakan. Aku pun selalu mengingat-ingat hari dimana setiap pagi yang disyukuri karena masih bisa terbangun menemukan senyumnya. Semua siang yang dihabiskan dengan merindukannya. Juga malam yang ditutup dengan doa memohon kebahagiaannya. Aku menemukan tawa di sisinya.
Saat aku tertawa, aku senantiasa berdoa kepada Tuhan agar Tuhan berkenan mengijinkan dan memberikan banyak nafas padaku saat aku tak sanggup memikul rasa karena senyumannya, memberikan jantung yang senantiasa berdegup saat dia berada di dekatku, dan darah yang berdesir saat aku merasakan keduanya. Namun, jika Tuhan tidak memberikannya kepadaku, aku akan bersabar.
Hanya dia yang selalu tahu aku suka oranye dan pergi ke pasar malam untuk mendapatkan cotton candy dan pedasnya bakso. Dia yang selalu tahu aku yang tidak pernah sanggup menahan dingin yang menusuk tulang. Juga dia yang selalu tahu aku begitu egois dan tidak pernah memikirkan perasaannya. Dia yang selalu berkata, “Beberapa hal yang sebaiknya dikendalikan adalah kesenangan dan keinginan. Keduanya terkadang membuat seseorang hanya memikirkan diri sendiri tanpa peduli orang lain”.
Sungguh, saat bersamanya aku selalu ingin menuliskan cerita dalam diariku. Dalam sebuah novel. Saat bersamanya pula, aku selalu ingin menggambar tentang hatiku. Bahwa aku selalu bahagia berada di sampingnya, meski dia begitu amat sangat menyebalkan.
Perjalalan hidup ini begitu mengajariku bahwa merusak selalu lebih cepat dan lebih mudah daripada membangun. Termasuk dengan kehilangan. Mendapatkan lebih mudah daripada menjaganya. Tapi aku selalu tahu bahwa kehilangan merupakan mekanisme Tuhan yang sedang bekerja untuk mengatur sirkulasi dan distribusi yang sejatinya milik-Nya.
Mungkin kini aku begitu galau. Aku mencoba merefleksikan hal-hal yang kujalani dan dapatkan selama ini. Aku berdiri di sebuah titik yang disebut saat ini, lalu memandang jauh ke masa depan. Aku pun merasakan kegalauan. Galau karena tidak ada kepastian akan masa depan. Namun, aku menengok beberapa tahun lalu ke belakang saat aku merasakan kegalauan yang sama. Aku bisa sampai di titik ini dengan selamat. Oleh karena itu, meskipun saat ini aku didera galau yang sama ketika memandang masa depan, semoga aku masih memiliki kekuatan untuk meyakini bahwa aku akan berhasil melewati masa depan itu seperti halnya aku telah berhasil melampaui masa lalu.
Terima kasih desember, aku ternyata begitu istimewa dan dipertemukan dengan orang yang sangat istimewa. Karena dia, aku tahu arti memiliki kehilangan. Karena dia, aku mampu mendeskripsikan setiap perasaan yang ingun kukatakan. Semoga riuhnya perjalanan ini tidak sampai membuat jiwaku terkoyak.
Terima kasih untuk seluruh kejadian yang awalnya dibenci, daripadamu aku belajar bahwa sesuatu yang sulit diterima terdapat banyak kebaikan yang tak pernah disadari. Sungguh, aku begitu menyayanginya. Aku menitipkannya kepada Tuhan. Suatu saat jika dia memang milikku, dia akan selalu kembali padaku. Sekali kusimpan hatinya, dia tak akan pernah terbang lagi. Andaikan dia pergi, dia akan selalu kembali datang padaku.
Desember begitu istimewa, seperti kamu.

Penuh sayang dalam 30 menit,
Erlita Sari.
Seorang pemimpi yang ingin menjelajah banyak museum dan pasar malam untuk merasakan nikmatnya Cotton Candy.