Tulisan yang sederhana ini,
terinspirasi dari obrolan dengan seorang sahabatku yang membahas tentang jodoh.
Dia bercerita bahwa kakaknya menikah dengan seorang yang dikenalnya di sebuah
bus. Pertemuan yang dapat dihitung dengan jam itu akhirnya menuju ke pelaminan.
Tak berbeda dengan kakakku, dia juga menikah dengan seorang yang dikenalnya di
dalam bus. Sesuatu yang tak terduga menjadi sebuah cerita indah tersendiri. Selain
itu, kakakku juga pernah bercerita bahwa seorang sahabatnya yang telah
berta’arufan selama 8 tahun akhirnya
menikah dengan orang yang baru dikenalnya selama beberapa bulan. Dan aku yang
berta’aruf dengan pria, akhirnya dia juga menikah dengan orang yang baru
dikenalnya.
Seseorang mungkin boleh
berencana, akan tetapi Allah yang menentukan. Allah maha penyayang diantara
para penyayang, dimana Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya.
Meski terkadang kita sebagai manusia menyesal saat mendapatkan apa yang tidak
sesuai dengan keinginan kita. Namun, pada akhirnya kita tahu bahwa semua ada
hikmah-Nya dan inilah jalan terbaik.
Dimana
jodohku? Itulah yang menjadi pertanyaan yang senantiasa ada saat obrolan santai
dengan sahabat-sahabat tercinta. Saat terlihat di ujung-ujung kota banyak
berceceran anak muda dengan pasangannya masing-masing. Dan aku masih menikmati
keindahan kota tercinta. Menghirup dalam-dalam udara dingin di sepanjang
jalanan malam minggu kota. Melepas penat dari tugas yang bejibun. Dan aku masih
mengingat perkataan yang sederhana, cinta itu kebenarannya relatif. Ya,
relatif, terkadang sangat mudah mencari pasangan untuk bersenang-senang. Namun,
disana masihkah tersisa pasangan yang mampu menemani untuk menjalani
hiruk-pikuk labirin kehidupan?
Masih
mengingat nasihat dari sahabat, mencari pasangan tak semudah membalikkan
telapak tangan. Dan terkadang saat aku bertanya kepada salah seorang sahabat,
dia malah memberikan ekspresi bahwa jodoh itu selalu ada dan untuk saat ini
kita memang harus meraih sebuah cita. Jalan hidup masih panjang dan saat ini
adalah waktunya kita berjihad terlebih dahulu. Makna jihad yang bukan merakit bom dan membuat histeris. Namun, jihad
untuk memerangi kebodohan dan melanjutkan hidup untuk masa depan. Meraih mimpi
yang belum dijemput.
Jodoh memang di tangan Allah,
namun, jika jodoh selalu di tangan-Nya maka kita pun harus menjemput dia
laksana kita menjemput mimpi-mimpi yang senantiasa meluap-luap didalam dada.
Dimana
jodohku?? Ya, setiap hati manusia yang tersembunyi pasti terbesit pertanyaan
sekecil ini. Setiap manusia diciptakan Allah secara berpasang-pasangan. Jodoh
itu senantiasa dekat dan tinggal bagaimana kita dapat menjemputnya. Boleh jadi
yang kita temui meski sekejap menjadi jodoh kita. Atau, mungkin saja orang yang
kita benci menjadi seseorang yang kita cintai.
Hidup
itu terlalu singkat untuk tidak berbuat, sehingga kita memang harus berbuat.
Dengan menggunakan DUIT (Doa, Usaha, Ikhlas, dan Tawakal), semoga kita mendapat
jodoh yang mampu membuat kita semakin mencintai-Nya. Yang mampu amar ma’ruf
nahi munkar dan fastabiqul khoirot. Hidup di dunia yang sangat sederhana ini,
semoga kita mampu memanfaatkan segalanya dan semoga kita terlindung dari
kelalaian dan putus asa. Amin J
“Rabb, cintakanlah kami pada
seseorang yang mencintai-Mu sehingga menambah kekuatan kami untuk mencintai-Mu.
Ya Rabb, jika dia benar untuk kami maka dekatkan hatinya untuk kami dan jika
dia bukan milik kami maka damaikanlah hati kami dengan ketentuan-Mu.”

