Saturday, October 20, 2012

Menyusuri Malam Minggu


Menyusuri Malam Minggu
                Malam ini malam yang eksotis, bisa dibilang malamnya anak muda. Mungkin penuh dengan cinta, pasalnya Anda akan menemukan berderet orang dengan pasangannya. Dan malam ini, aku mencoba hal yang baru yang biasanya malam ini kuhabiskan hanya tuk di rumah. Bermodal sepeda kumbang kuno milik kakek, aku dan saudara laki-lakiku yang telah duduk di bangku SMA mencoba mengelilingi indahnya kota Klaten di malam minggu setelah Isya selesai. Ya, jarak dari rumah menuju jantung kota Klaten cukup dekat. Meski rumah terletak di desa, namun ini adalah desanya kota. Hal yang sama pun pernah dilontarkan sahabatku manakala ia mencari letak desaku menggunakan alat canggih, ya, google maps. Dimana semua orang dapat menjelajah dunia dengan hanya hitungan detik dan segala info dimana saja dapat diakses dengan cepat. Dia berkata padaku, mengapa di google maps hanya tampak areal persawahan. Ya, tak kupungkiri, memang disini pemandangannya asoy karena banyak areal sawah yang akan dijumpai. Bahkan dari perangkat desa pun menghimbau kepada warga agar sawah ini tetap menjadi sawah. Selain itu, desaku yang tercinta ini juga terkenal. Pasalnya, beberapa kali pernah diulas dalam surat kabar terkenal di Jogja dan sekitarnya.  Terkenal akan gunungan sampah yang membludak. Bagaimana tidak? Setiap hari, puluhan kali truk berwarna kuning mengangkut jutaan sampah yang mungkin saja sampah itu sampah se-Klaten. Jika truk itu lewat, maka orang-orang akan menutup hidungnya rapat-rapat sobat. Pasalnya, bak yang terbuka dan sampah overload didalamnya beserta sampah-sampah yang mungkin telah didominasi ribuan bakteri itu menimbulkan bau yang membuat hidung mengembang dan mengempis. Tak hanya itu, jika di musim penghujan, warga sekitar dapat mencium harumnya aroma sampah dengan radius puluhan meter. Ya, saat menyusuri areal sawah pun, aku mampu melihat gunungan sampah yang tinggi dimana tingginya tak pernah kutahu pastinya berapa. Inilah desaku, dimana banyak areal sawah dan gunungnya yang memenuhi penglihatan mata. Berbicara tentang sampah, Jikalau sampah organik dapat diolah jadi pupuk, sampah anorganik dapat didaur ulang, namun bagaimana jika itu sampah masyarakat? Mampukah kita mengatasi hal yang terakhir tadi?
Kembali pada cerita tadi, jarak rumah dan jantung kota dapat ditempuh sekitar 20 menit menggunakan sepeda yang sederhana dan ramah lingkungan ini. Dimana dapat menikmati dengan santai setiap jengkal daerah yang dilewati. Ya, hitung-hitung mengurangi sedikit polusi. Masih mengayuh sepeda tua nan penuh episod cerita ini. Sesampai di kota, aku takjub dengan keramaian yang ditunjukkannya. Semua orang memadati jalan raya dan hanya kami manusia yang masih muda menggunakan sepeda tua nan eksotis ini. Puluhan pasang mata memandangku seakan mengisyaratkan bahwa betapa kunonya kami. Tak peduli, yang aku tahu hanya menikmati malam dengan sepeda tua dan merasakan esensi menggunakan sepeda ini. Sepeda yang menjadi saksi sejarah biru dan merasakan pahit getirnya masa orde lama, orde baru, reformasi dan jaman penjajahan. Nyentrik bukan?
Dan masih banyak yang melihat, di sudut jalan ada beberapa perempuan yang tertawa kecil dan melihat kami dengan sorot mata tajam. Apakah kami terlihat so cute? Pasalnya sepeda tua ini biasanya digunakan untuk foto prewedding dan di kota besar pun harganya tak terjangkau. Beberapa meter dari mereka, kutemui beberapa laki-laki yang sedang mengendarai motornya menengok ke arahku dan tersenyum. Wah, benar-benar deh ya, sepeda ini penuh esensi sehingga puluhan mata menatap tajam.
Masih mengayuh sepeda, kutemukan orang-orang menikmati wisata kuliner dan jalan-jalan menggunakan waktu malam minggu. Berderet-deret warung pun menyajikan bermacam menu. Dan kutemui anak-anak muda dari yang kecil hingga dewasa. Inikah malam minggu? Baru kali ini menikmati pemandangan keramaian, mungkin karena aku terlalu sibuk dengan menikmati malam minggu di rumah. Aku pun menjumpai laki-laki dan perempuan dengan bermacam style yang mereka anut. Inilah masa muda, tinggal memilih bagaimana kita menyikapinya dan masa pencarian jati diri yang terkadang masih labil. Indah juga saat kumelihat ini, namun saat kusadari  berbagai hal yang aku temui dalam perjalanan aku sadar, benarkah wejangan dari Ronggowarsito telah memunculkan tanda-tandanya? Dimana bumi berkalungkan besi, kendaraan berjalan di atas awang-awang, terjadi pagebluk dimana-mana, kejahatan merajalela, wolak-walik ing jaman dimana fenomena transeksual telah menjadi rahasia umum dan biasa, yang salah menjadi benar dan benar menjadi salah. Akan hilang rasa malunya sehingga saat memakai pakaian yang minim pun rasanya lebih nyaman. Terkadang terlintas dalam benak, apakah tidak kedinginan di malam hari? Apakah tidak merasa panas yang menyengat di siangnya? Bahkan pakaiannya tidak lebih dari sopan dari yang dipakai hantu wanita yang pernah kutemui. Hmm, menyusuri malam minggu dengan pelajaran yang banyak kudapati.
Di sudut kota pun, aku menemui gubuk yang tidak lebih dari kata pantas huni. Namun, kulihat sang pemilik masih semangat hidup dan berjuang untuk hidup. Kutemui pula anak-anak kecil yang seharusnya bermain akan tetapi mencari nafkah bersama orang tuanya. Pemandangan yang kontras, di satu sisi malam ini menyimpan keindahan namun di sisi lain penuh dengan perjuangan membanting setiap tulang yang menyangga tiap tubuh yang berdiri tegak. Di pasar tradisional, ya, di depan pasar, aku terpaku melihat seseorang. Bukan karena pria yang tampan ataupun yang stylish, bukan juga wanita dengan keindahan yang dimiliki dalam setiap jengkal tubuhnya. Namun, kali ini berbeda. Dalam kondisi becek dan bau dimana-mana, kulihat perempuan berparas mempesona menikmati malam minggu dengan cara yang sederhana dan indah. Postur tubuh yang ideal dan kuning langsat kulitnya, menyapu dan mengangkut sampah-sampah yang berserakan di sudut pasar. Tak gentar, ya, kata yang pantas untuknya. Dia tetap percaya diri meski puluhan atau mungkin ratusan mata memandangnya, memandang gadis imut yang mencoba mengais tiap rupiah. Sangat kontras dengan perempuan-perempuan yang kutemui sebelumnya. Namun, jangan salah kawan, gadis ini mengaku masih duduk di bangku SMA dan demi sebuah kosa kata pendidikan, ia melakukan semuanya ini. Demi mengubah nasib dan keinginan tuk belajar, apapun caranya ia lakukan meskipun ia kehilangan masa muda itu lebih baik daripada kehilangan masa depan.
Menyusuri malam minggu, menyusuri pula jalanan di tengah keramaian yang indah ini. Semua itu ada pelajaran yang terselip, hanya bagaimana kita mampu mengambil pelajaran tersebut. Indahnya malam ini, aku pun masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk hidup, menghembuskan napas dan menikmati setiap anugerah yang diberi-Nya. Dimana saat semua kejadian itu ada, semuanya pasti ada hikmah yang dapat dipelajari sebagai perbaikan diri. Demand = Suply.

No comments:

Post a Comment