Menyusuri Malam Minggu
Malam
ini malam yang eksotis, bisa dibilang malamnya anak muda. Mungkin penuh dengan
cinta, pasalnya Anda akan menemukan berderet orang dengan pasangannya. Dan
malam ini, aku mencoba hal yang baru yang biasanya malam ini kuhabiskan hanya
tuk di rumah. Bermodal sepeda kumbang kuno milik kakek, aku dan saudara
laki-lakiku yang telah duduk di bangku SMA mencoba mengelilingi indahnya kota
Klaten di malam minggu setelah Isya selesai. Ya, jarak dari rumah menuju
jantung kota Klaten cukup dekat. Meski rumah terletak di desa, namun ini adalah
desanya kota. Hal yang sama pun pernah dilontarkan sahabatku manakala ia
mencari letak desaku menggunakan alat canggih, ya, google maps. Dimana semua
orang dapat menjelajah dunia dengan hanya hitungan detik dan segala info dimana
saja dapat diakses dengan cepat. Dia berkata padaku, mengapa di google maps
hanya tampak areal persawahan. Ya, tak kupungkiri, memang disini pemandangannya
asoy karena banyak areal sawah yang akan dijumpai. Bahkan dari perangkat desa
pun menghimbau kepada warga agar sawah ini tetap menjadi sawah. Selain itu,
desaku yang tercinta ini juga terkenal. Pasalnya, beberapa kali pernah diulas
dalam surat kabar terkenal di Jogja dan sekitarnya. Terkenal akan gunungan sampah yang membludak.
Bagaimana tidak? Setiap hari, puluhan kali truk berwarna kuning mengangkut
jutaan sampah yang mungkin saja sampah itu sampah se-Klaten. Jika truk itu
lewat, maka orang-orang akan menutup hidungnya rapat-rapat sobat. Pasalnya, bak
yang terbuka dan sampah overload didalamnya beserta sampah-sampah yang mungkin
telah didominasi ribuan bakteri itu menimbulkan bau yang membuat hidung
mengembang dan mengempis. Tak hanya itu, jika di musim penghujan, warga sekitar
dapat mencium harumnya aroma sampah dengan radius puluhan meter. Ya, saat
menyusuri areal sawah pun, aku mampu melihat gunungan sampah yang tinggi dimana
tingginya tak pernah kutahu pastinya berapa. Inilah desaku, dimana banyak areal
sawah dan gunungnya yang memenuhi penglihatan mata. Berbicara tentang sampah,
Jikalau sampah organik dapat diolah jadi pupuk, sampah anorganik dapat didaur
ulang, namun bagaimana jika itu sampah masyarakat? Mampukah kita mengatasi hal
yang terakhir tadi?
Kembali pada
cerita tadi, jarak rumah dan jantung kota dapat ditempuh sekitar 20 menit
menggunakan sepeda yang sederhana dan ramah lingkungan ini. Dimana dapat
menikmati dengan santai setiap jengkal daerah yang dilewati. Ya, hitung-hitung
mengurangi sedikit polusi. Masih mengayuh sepeda tua nan penuh episod cerita
ini. Sesampai di kota, aku takjub dengan keramaian yang ditunjukkannya. Semua
orang memadati jalan raya dan hanya kami manusia yang masih muda menggunakan
sepeda tua nan eksotis ini. Puluhan pasang mata memandangku seakan
mengisyaratkan bahwa betapa kunonya kami. Tak peduli, yang aku tahu hanya
menikmati malam dengan sepeda tua dan merasakan esensi menggunakan sepeda ini.
Sepeda yang menjadi saksi sejarah biru dan merasakan pahit getirnya masa orde
lama, orde baru, reformasi dan jaman penjajahan. Nyentrik bukan?
Dan masih
banyak yang melihat, di sudut jalan ada beberapa perempuan yang tertawa kecil
dan melihat kami dengan sorot mata tajam. Apakah kami terlihat so cute?
Pasalnya sepeda tua ini biasanya digunakan untuk foto prewedding dan di kota
besar pun harganya tak terjangkau. Beberapa meter dari mereka, kutemui beberapa
laki-laki yang sedang mengendarai motornya menengok ke arahku dan tersenyum.
Wah, benar-benar deh ya, sepeda ini penuh esensi sehingga puluhan mata menatap
tajam.
Masih mengayuh
sepeda, kutemukan orang-orang menikmati wisata kuliner dan jalan-jalan
menggunakan waktu malam minggu. Berderet-deret warung pun menyajikan bermacam
menu. Dan kutemui anak-anak muda dari yang kecil hingga dewasa. Inikah malam
minggu? Baru kali ini menikmati pemandangan keramaian, mungkin karena aku
terlalu sibuk dengan menikmati malam minggu di rumah. Aku pun menjumpai
laki-laki dan perempuan dengan bermacam style yang mereka anut. Inilah masa
muda, tinggal memilih bagaimana kita menyikapinya dan masa pencarian jati diri
yang terkadang masih labil. Indah juga saat kumelihat ini, namun saat
kusadari berbagai hal yang aku temui
dalam perjalanan aku sadar, benarkah wejangan dari Ronggowarsito telah
memunculkan tanda-tandanya? Dimana bumi berkalungkan besi, kendaraan berjalan
di atas awang-awang, terjadi pagebluk dimana-mana, kejahatan merajalela,
wolak-walik ing jaman dimana fenomena transeksual telah menjadi rahasia umum
dan biasa, yang salah menjadi benar dan benar menjadi salah. Akan hilang rasa
malunya sehingga saat memakai pakaian yang minim pun rasanya lebih nyaman.
Terkadang terlintas dalam benak, apakah tidak kedinginan di malam hari? Apakah
tidak merasa panas yang menyengat di siangnya? Bahkan pakaiannya tidak lebih
dari sopan dari yang dipakai hantu wanita yang pernah kutemui. Hmm, menyusuri
malam minggu dengan pelajaran yang banyak kudapati.
Di sudut kota
pun, aku menemui gubuk yang tidak lebih dari kata pantas huni. Namun, kulihat
sang pemilik masih semangat hidup dan berjuang untuk hidup. Kutemui pula
anak-anak kecil yang seharusnya bermain akan tetapi mencari nafkah bersama
orang tuanya. Pemandangan yang kontras, di satu sisi malam ini menyimpan
keindahan namun di sisi lain penuh dengan perjuangan membanting setiap tulang
yang menyangga tiap tubuh yang berdiri tegak. Di pasar tradisional, ya, di
depan pasar, aku terpaku melihat seseorang. Bukan karena pria yang tampan
ataupun yang stylish, bukan juga wanita dengan keindahan yang dimiliki dalam
setiap jengkal tubuhnya. Namun, kali ini berbeda. Dalam kondisi becek dan bau dimana-mana,
kulihat perempuan berparas mempesona menikmati malam minggu dengan cara yang
sederhana dan indah. Postur tubuh yang ideal dan kuning langsat kulitnya,
menyapu dan mengangkut sampah-sampah yang berserakan di sudut pasar. Tak
gentar, ya, kata yang pantas untuknya. Dia tetap percaya diri meski puluhan
atau mungkin ratusan mata memandangnya, memandang gadis imut yang mencoba
mengais tiap rupiah. Sangat kontras dengan perempuan-perempuan yang kutemui
sebelumnya. Namun, jangan salah kawan, gadis ini mengaku masih duduk di bangku
SMA dan demi sebuah kosa kata pendidikan, ia melakukan semuanya ini. Demi
mengubah nasib dan keinginan tuk belajar, apapun caranya ia lakukan meskipun ia
kehilangan masa muda itu lebih baik daripada kehilangan masa depan.
Menyusuri
malam minggu, menyusuri pula jalanan di tengah keramaian yang indah ini. Semua
itu ada pelajaran yang terselip, hanya bagaimana kita mampu mengambil pelajaran
tersebut. Indahnya malam ini, aku pun masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk
hidup, menghembuskan napas dan menikmati setiap anugerah yang diberi-Nya.
Dimana saat semua kejadian itu ada, semuanya pasti ada hikmah yang dapat
dipelajari sebagai perbaikan diri. Demand = Suply.

No comments:
Post a Comment