Nuansa sore ini seperti biasanya, dengan langit yang mulai
redup dan aktivitas mulai berkurang. Sore kali ini bukanlah sore yang
biasanya aku nikmati, apalagi selepas menjalankan kewajiban KKN. Kali
ini aku terjebak dalam aktivitas akademik mengikuti kuliah. Ya, kuliah
yang berbau pendidikan matematika tentunya. Sebenarnya aku tak pernah
berpikir jikalau suatu saat nanti aku menjadi seorang guru, khususnya
guru matematika yang konon berpredikat sangat mengerikan. Aku hanya
berpikir suatu saat nanti aku akan menjadi seorang jurnalis atau paling
tidak sastrawan yang peduli dengan lingkungan sosial sekitarnya. Jika
kedua keinginan tak tercapai, aku masih memiliki opsi untuk mengabdikan
diri menjadi seorang perawat dan belajar banyak hal tentang Keperawatan
Medikal Bedah, Keperawatan Gerontik, dan tetek bengek lainnya. Tapi,
harapan hanyalah sebuah harapan. Takdir jalanku adalah menjadi calon
guru. Ini terbukti dengan 2 kali kegagalanku yang menjadi peserta lolos
cadangan untuk memasuki akademi keperawatan bergengsi di Jogja. Meski
aku mendapat peringkat lolos cadangan yang memungkinkan, tetap saja
gagal. Ternyata aku sadar, bahwa apalah sebuah profesi itu jikalau
takdirku berada di sini. Apa salahnya menjadi guru matematika, toh
mengabdikan diri mencerdaskan bangsa, bukankah profesi yang mulia?
Ya, aku masih di sini, sore ini, mengikuti kuliah sampai aktivitas
kampus tampak lengang. Berkurang pula orang-orang yang lalu lalang.
Saat aku duduk di bangku kelas, aku memutuskan untuk keluar kelas
menghirup udara segar beberapa saat.
Pandanganku tiba-tiba terhenti di jembatan penghubung antara Saintek
dan Syariah. Tiba-tiba perasaanku meloncat-loncat tak karuan. Aku
menjadi ingat akan perkataan seseorang.
“Jikalau kau merinduku, tenangkanlah hatimu, selama jembatan Saintek-Syariah terhubung, kita masih bisa bertemu”, Ucapnya.
Sungguh kalimat sederhana, tetapi sangat manis.
Ya, aku mengenal orang ini cukup baik hanya dengan 1,5 bulan.
Nominal angka yang sedikit, tetapi selama itu pula banyak kenangan yang
dirajut bersama.
Saat jumpa pertama dengannya manakala menjadi tim bersama dalam KKN.
Aku merasa dia adalah wanita yang tertutup lagi pendiam. Berhari-hari
berjumpa dengannya di posko KKN membuatku bersalah karena aku telah
salah menilainya. Kini, aku mendapat pelajaran berharga bahwa jangan
menyimpulkan karakter seseorang jikalau kamu belum mengenal betul orang
tersebut.
Berawal dari kebersamaan kegiatan di KKN, aku mulai merasa nyaman
dengannya. Hal ini terbukti dengan keakraban kami yang ditunjukkan
dengan makan sepiring nasi untuk berdua saat kegiatan posyandu, buka
puasa, sahur, dan kegiatan yang lain. Belum pernah aku berbagi makanan
dengan orang lain, kecuali dengan kakak perempuanku dan aku memutuskan
makan berdua bersamanya bukan karena kita “KW”. Aku merasa nuansa
bersamanya itu rasanya sama saat aku bersama dengan kakak perempuanku
yang kini telah menikah dan tentunya aku tak bisa lagi sedekat dulu.
Dimana pun kami berada, aku selalu berbagi makan bersamanya. Bahkan
saat aku marah karena suatu hal, dia menghiburku dengan saling berbagi
makan sepiring berdua. Terkadang sahabatku yang satu ini sering
membuatku menjadi orang yang paling spesial dan menjadi bagian di
hidupnya. Bahkan saat 1,5 bulan kebersamaan yang tentunya saat itu
detik-detik berakhirnya KKN, kami pun pulang bersama. Saat berpisah,
sepanjang perjalanan pulang matanya sembab tak karuan.
Jikalau aku melihat matanya yang sembab itu, perasaanku ngilu.
Apalagi aku sempat melihat matanya yang berkaca-kaca di posko karena
suatu hal dan dia selalu saja mencoba menyembunyikan perasaan yang
ditanggungnya dariku.
Bagiku, dia itu misteri. Memiliki banyak semangat untuk membuat
sesuatu yang tak terduga. Bagiku, dia sosok sahabat yang baik hati dan
bisa diandalkan. Terbukti saat ramadan, meski dia tidak berpuasa, dia
tetap mau memasakkan menu sahur untuk teman-teman yang lain. Raut
wajahnya tak pernah menunjukkan rasa mengeluh, meski aku tahu betul dia
itu sangat kelelahan. Dia tak pernah menyerah, terbukti tekatnya
mengerjakan laporan-laporan sampai larut malam. Dan yang aku rindukan
darinya adalah ucapannya yang manis sehingga membuatku merasa spesial.
“Senyummu adalah semangatku”, begitu ucapnya.
Jikalau dia berkata seperti itu, rasa malasku mendadak berestorasi semangat.
Huh, memandangi jembatan Saintek-Syariah ternyata perlahan menyekap
jiwaku akan banyak kenangan yang telah terjadi. Perlahan merajut
rindu-rindu yang kecil dan lama-kelamaan memenuhi rongga dadaku.
Tingkah tidurku yang mungkin menyebalkan, perkataanku yang
menyakitkan atau terkadang keterlambatan dan kemalasanku yang
menghambat, maafkanlah sahabat.
Tapi suatu saat nanti, aku percaya, kamu akan merindukanku.
Merindukanku saat kau menjuluki aku sebagai ibu-ibu karena mengeroki
badanmu yang masuk angin, mengajakmu “nabung di warung”, tidur
bersamaku, dan mendengarkan ceritaku yang kadang membosankan di malam
hari.
Kau pernah berkata bahwa kau merindukanku dan sangat cemas jikalau
tak bertemu lagi, tetapi bukankah kita masih memandangi langit yang
sama? Masih sama menatap indahnya bintang gemintang dan sinar rembulan
yang mempesona di malam hari? Bukankah kita juga masih dapat merasakan
hangatnya sinar matahari yang sama? Meski kita berada di tempat
berbeda, tetapi kenangan itu tak akan pernah lekang oleh waktu.
Kenangan itu akan senantiasa menempati tempat terluas di hati dan tak
tersubstitusi oleh apapun selagi kau masih mengingatnya. Aku senantiasa
berada di dekatmu. Bukankah tiap pertemuan pasti ada perpisahan? Meski
berpisah, bukan berati ukhuwah terputus begitu saja.
Ingatlah sepanjang perjalanan yang kita lewati bersama, ingatlah
saat-saat kita makan sepiring berdua, dan ingatlah tempat-tempat kita
meluangkan waktu bersama. Bukankah itu hal manis yang pernah dilakukan?
Dan aku akan senantiasa mengenangnya, disini, di dalam hatiku.
Jikalau kau menangis, maka menangislah selagi menangis membuatmu
merasa nyaman. Perpisahan bukan akhir segalanya dan aku yakin bahwa aku
adalah orang yang paling susah ditemukan karena karakter sepertiku
hanya dimiliki olehku, meski terkadang begitu menyebalkan. Jikalau kau
merinduku, ingatlah aku dengan lagu favoritku #311 – Love Song.
Terima kasih sahabat, telah memberikan aku banyak pelajaran berharga
dalam hidupku ini dan memberikan warna-warni yang tentunya menorehkan
kenangan tak terlupakan.
Ditulis selama 45 menit dengan penuh kerinduan yang meluapi rongga dada , dalam 21 September 2012.
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete