Monday, October 22, 2012

Merajut Rindu Untukmu

Nuansa sore ini seperti biasanya, dengan langit yang mulai redup dan aktivitas mulai berkurang. Sore kali ini bukanlah sore yang biasanya aku nikmati, apalagi selepas menjalankan kewajiban KKN. Kali ini aku terjebak dalam aktivitas akademik mengikuti kuliah. Ya, kuliah yang berbau pendidikan matematika tentunya. Sebenarnya aku tak pernah berpikir jikalau suatu saat nanti aku menjadi seorang guru, khususnya guru matematika yang konon berpredikat sangat mengerikan. Aku hanya berpikir suatu saat nanti aku akan menjadi seorang jurnalis atau paling tidak sastrawan yang peduli dengan lingkungan sosial sekitarnya. Jika kedua keinginan tak tercapai, aku masih memiliki opsi untuk mengabdikan diri menjadi seorang perawat dan belajar banyak hal tentang Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Gerontik, dan tetek bengek lainnya.  Tapi, harapan hanyalah sebuah harapan. Takdir jalanku adalah menjadi calon guru. Ini terbukti dengan 2 kali kegagalanku yang menjadi peserta lolos cadangan untuk memasuki akademi keperawatan bergengsi di Jogja. Meski aku mendapat peringkat lolos cadangan yang memungkinkan, tetap saja gagal. Ternyata aku sadar, bahwa apalah sebuah profesi itu jikalau takdirku berada di sini. Apa salahnya menjadi guru matematika, toh mengabdikan diri mencerdaskan bangsa, bukankah profesi yang mulia?
Ya, aku masih di sini, sore ini, mengikuti kuliah sampai aktivitas kampus tampak lengang. Berkurang pula orang-orang yang lalu lalang. Saat aku duduk di bangku kelas, aku memutuskan untuk keluar kelas menghirup udara segar beberapa saat.
Pandanganku tiba-tiba terhenti di jembatan penghubung antara Saintek dan Syariah. Tiba-tiba perasaanku meloncat-loncat tak karuan. Aku menjadi ingat akan perkataan seseorang.
“Jikalau kau merinduku, tenangkanlah hatimu, selama jembatan Saintek-Syariah terhubung, kita masih bisa bertemu”, Ucapnya.
Sungguh kalimat sederhana, tetapi sangat manis.
Ya, aku mengenal orang ini cukup baik hanya dengan 1,5 bulan. Nominal angka yang sedikit, tetapi selama itu pula banyak kenangan yang dirajut bersama.
Saat jumpa pertama dengannya manakala menjadi tim bersama dalam KKN. Aku merasa dia adalah wanita yang tertutup lagi pendiam. Berhari-hari berjumpa dengannya di posko KKN membuatku bersalah karena aku telah salah menilainya. Kini, aku mendapat pelajaran berharga bahwa jangan menyimpulkan karakter seseorang jikalau kamu belum mengenal betul orang tersebut.
Berawal dari kebersamaan kegiatan di KKN, aku mulai merasa nyaman dengannya. Hal ini terbukti dengan keakraban kami yang ditunjukkan dengan makan sepiring nasi untuk berdua saat kegiatan posyandu, buka puasa, sahur, dan kegiatan yang lain. Belum pernah aku berbagi makanan dengan orang lain, kecuali dengan kakak perempuanku dan aku memutuskan makan berdua bersamanya bukan karena kita “KW”. Aku merasa  nuansa bersamanya itu rasanya sama saat aku bersama dengan kakak perempuanku yang kini telah menikah dan tentunya aku tak bisa lagi sedekat dulu.
Dimana pun kami berada, aku selalu berbagi makan bersamanya. Bahkan saat aku marah karena suatu hal, dia menghiburku dengan saling berbagi makan sepiring berdua. Terkadang sahabatku yang satu ini sering membuatku menjadi orang yang paling spesial dan menjadi bagian di hidupnya. Bahkan saat 1,5 bulan kebersamaan yang tentunya saat itu detik-detik berakhirnya KKN, kami pun pulang bersama. Saat berpisah, sepanjang perjalanan pulang matanya sembab tak karuan.
Jikalau aku melihat matanya yang sembab itu, perasaanku ngilu. Apalagi aku sempat melihat matanya yang berkaca-kaca di posko karena suatu hal dan dia selalu saja mencoba menyembunyikan perasaan yang ditanggungnya dariku.
Bagiku, dia itu misteri. Memiliki banyak semangat untuk membuat sesuatu yang tak terduga. Bagiku, dia sosok sahabat yang baik hati dan bisa diandalkan. Terbukti saat ramadan, meski dia tidak berpuasa, dia tetap mau memasakkan menu sahur untuk teman-teman yang lain. Raut wajahnya tak pernah menunjukkan rasa mengeluh, meski aku tahu betul dia itu sangat kelelahan. Dia tak pernah menyerah, terbukti tekatnya mengerjakan laporan-laporan sampai larut malam. Dan yang aku rindukan darinya adalah ucapannya yang manis sehingga membuatku merasa spesial.
“Senyummu adalah semangatku”, begitu ucapnya.
Jikalau dia berkata seperti itu, rasa malasku mendadak berestorasi semangat.
Huh, memandangi jembatan Saintek-Syariah ternyata perlahan menyekap jiwaku akan banyak kenangan yang telah terjadi. Perlahan merajut rindu-rindu yang kecil dan lama-kelamaan memenuhi rongga dadaku.
Tingkah tidurku yang mungkin menyebalkan, perkataanku yang menyakitkan atau terkadang keterlambatan dan kemalasanku yang menghambat, maafkanlah sahabat.
Tapi suatu saat nanti, aku percaya, kamu akan merindukanku. Merindukanku saat kau menjuluki aku sebagai ibu-ibu karena mengeroki badanmu yang masuk angin, mengajakmu “nabung di warung”, tidur bersamaku, dan mendengarkan ceritaku yang kadang membosankan di malam hari.
Kau pernah berkata bahwa kau merindukanku dan sangat cemas jikalau tak bertemu lagi, tetapi bukankah kita masih memandangi langit yang sama? Masih sama menatap indahnya bintang gemintang dan sinar rembulan yang mempesona di malam hari? Bukankah kita juga masih dapat merasakan hangatnya sinar matahari yang sama? Meski kita berada di tempat berbeda, tetapi kenangan itu tak akan pernah lekang oleh waktu. Kenangan itu akan senantiasa menempati tempat terluas di hati dan tak tersubstitusi oleh apapun selagi kau masih mengingatnya. Aku senantiasa berada di dekatmu. Bukankah tiap pertemuan pasti ada perpisahan? Meski berpisah, bukan berati ukhuwah terputus begitu saja.
Ingatlah sepanjang perjalanan yang kita lewati bersama, ingatlah saat-saat kita makan sepiring berdua, dan ingatlah tempat-tempat kita meluangkan waktu bersama. Bukankah itu hal manis yang pernah dilakukan? Dan aku akan senantiasa mengenangnya, disini, di dalam hatiku.
Jikalau kau menangis, maka menangislah selagi menangis membuatmu merasa nyaman. Perpisahan bukan akhir segalanya dan aku yakin bahwa aku adalah orang yang paling susah ditemukan karena karakter sepertiku hanya dimiliki olehku, meski terkadang begitu menyebalkan. Jikalau kau merinduku, ingatlah aku dengan lagu favoritku #311 – Love Song.
Terima kasih sahabat, telah memberikan aku banyak pelajaran berharga dalam hidupku ini dan memberikan warna-warni yang tentunya menorehkan kenangan tak terlupakan.
Ditulis selama 45 menit dengan penuh kerinduan yang meluapi rongga dada , dalam 21 September 2012.

1 comment: