Desember, tahukah kamu? Kini, aku
menjadi gadis yang menyukai bersepeda diantara rintikan hujan. Karena hujan,
aku tahu hangatnya sinar mentari pagi. Hujan pula membuatku tahu indahnya
pelangi. Hujan juga membuatku lebih peka untuk mendeskripsikan perasaanku. Setiap
guyurannya yang menetesi tubuhku, setiap itu pula aku mengeluarkan perasaanku
melalui kosa kata.
Desember, apa kamu juga tahu
tentang dirimu sebagai bulan di akhir tahun? Aku pun selalu bersyukur kepada Tuhan
karena selalu diberikan nikmat untuk bisa bertemu denganmu dan dengannya. Meski
aku tahu pertemuan itu berupa pertemuan akhir, tetapi tak sekalipun aku
mengutuki takdir ini.
Desember, kamu menambah rentetan
panjang dalam perjalanan hidupku. Perjalanan saat bersamanya pula. Aku pun
masih bisa mengingat aroma tubuhnya. Aroma yang tipikal saat kuhirup dari jauh.
Bukan aroma parfum apalagi deodoran. Aku juga masih mengingat saat dia
tersenyum, rentetan giginya selalu mengingatkanku saat makan jagung. Rapi bukan
main.
Aku masih ingat betul saat marah
karena dia tidak mengiyakan pergi ke toko jam sebagai rutinitas ulang tahunku. Aku
pikir dia sama saja dengan yang lainnya. Ternyata saat aku pulang dia
memberikan sesuatu yang tak pernah kuduga. Jam berwarna oranye. Warna kesukaanku.
Dia lebih istimewa dari yang kupikirkan.
Aku juga masih ingat saat
berjalan jauh karena ban motornya bocor. Aku duduk dan mengibaskan bajuku,
berharap ada celah udara yang bisa masuk mendinginkan tubuhku. Sungguh, aku
tidak marah dan senang menemaninya. Lalu dia pergi, aku pikir dia merasa
bersalah padaku. Namun, dia pergi hanya untuk membelikan tisu agar aku tidak
merasa kepanasan lagi.
Desember, duduk bersamanya dan
memandang lekat bintang gemintang adalah hal yang paling menyenangkan. Pernah saat
kehujanan dan jaketku basah kuyup, dia memberikan jaketnya untukku dan memakai
jaketku yang basah. Dia tersenyum. Aku pikir dia sedang mencoba menggodaku. J
Desember, setiap bulan berganti
dari Desember 2011 ke Januari, Februari, Maret, dst. Aku selalu menuliskan
tulisan untuknya. Bukan tulisan galau tentunya. Karena aku tahu, melalui
tulisan dia bisa membaca setiap apa yang kurasakan. Aku pun selalu
mengingat-ingat hari dimana setiap pagi yang disyukuri karena masih bisa
terbangun menemukan senyumnya. Semua siang yang dihabiskan dengan
merindukannya. Juga malam yang ditutup dengan doa memohon kebahagiaannya. Aku
menemukan tawa di sisinya.
Saat aku tertawa, aku senantiasa
berdoa kepada Tuhan agar Tuhan berkenan mengijinkan dan memberikan banyak nafas
padaku saat aku tak sanggup memikul rasa karena senyumannya, memberikan jantung
yang senantiasa berdegup saat dia berada di dekatku, dan darah yang berdesir saat
aku merasakan keduanya. Namun, jika Tuhan tidak memberikannya kepadaku, aku
akan bersabar.
Hanya dia yang selalu tahu aku
suka oranye dan pergi ke pasar malam untuk mendapatkan cotton candy dan
pedasnya bakso. Dia yang selalu tahu aku yang tidak pernah sanggup menahan
dingin yang menusuk tulang. Juga dia yang selalu tahu aku begitu egois dan
tidak pernah memikirkan perasaannya. Dia yang selalu berkata, “Beberapa hal
yang sebaiknya dikendalikan adalah kesenangan dan keinginan. Keduanya terkadang
membuat seseorang hanya memikirkan diri sendiri tanpa peduli orang lain”.
Sungguh, saat bersamanya aku
selalu ingin menuliskan cerita dalam diariku. Dalam sebuah novel. Saat bersamanya
pula, aku selalu ingin menggambar tentang hatiku. Bahwa aku selalu bahagia
berada di sampingnya, meski dia begitu amat sangat menyebalkan.
Perjalalan hidup ini begitu
mengajariku bahwa merusak selalu lebih cepat dan lebih mudah daripada
membangun. Termasuk dengan kehilangan. Mendapatkan lebih mudah daripada
menjaganya. Tapi aku selalu tahu bahwa kehilangan merupakan mekanisme Tuhan
yang sedang bekerja untuk mengatur sirkulasi dan distribusi yang sejatinya
milik-Nya.
Mungkin kini aku begitu galau. Aku
mencoba merefleksikan hal-hal yang kujalani dan dapatkan selama ini. Aku
berdiri di sebuah titik yang disebut saat ini, lalu memandang jauh ke masa
depan. Aku pun merasakan kegalauan. Galau karena tidak ada kepastian akan masa
depan. Namun, aku menengok beberapa tahun lalu ke belakang saat aku merasakan
kegalauan yang sama. Aku bisa sampai di titik ini dengan selamat. Oleh karena
itu, meskipun saat ini aku didera galau yang sama ketika memandang masa depan,
semoga aku masih memiliki kekuatan untuk meyakini bahwa aku akan berhasil
melewati masa depan itu seperti halnya aku telah berhasil melampaui masa lalu.
Terima kasih desember, aku
ternyata begitu istimewa dan dipertemukan dengan orang yang sangat istimewa.
Karena dia, aku tahu arti memiliki kehilangan. Karena dia, aku mampu
mendeskripsikan setiap perasaan yang ingun kukatakan. Semoga riuhnya perjalanan
ini tidak sampai membuat jiwaku terkoyak.
Terima kasih untuk seluruh
kejadian yang awalnya dibenci, daripadamu aku belajar bahwa sesuatu yang sulit
diterima terdapat banyak kebaikan yang tak pernah disadari. Sungguh, aku begitu
menyayanginya. Aku menitipkannya kepada Tuhan. Suatu saat jika dia memang
milikku, dia akan selalu kembali padaku. Sekali kusimpan hatinya, dia tak akan
pernah terbang lagi. Andaikan dia pergi, dia akan selalu kembali datang padaku.
Desember begitu istimewa, seperti
kamu.
Penuh sayang dalam 30 menit,
Erlita Sari.
Seorang pemimpi yang ingin
menjelajah banyak museum dan pasar malam untuk merasakan nikmatnya Cotton
Candy.