Wednesday, December 25, 2013

Desember



Desember, tahukah kamu? Kini, aku menjadi gadis yang menyukai bersepeda diantara rintikan hujan. Karena hujan, aku tahu hangatnya sinar mentari pagi. Hujan pula membuatku tahu indahnya pelangi. Hujan juga membuatku lebih peka untuk mendeskripsikan perasaanku. Setiap guyurannya yang menetesi tubuhku, setiap itu pula aku mengeluarkan perasaanku melalui kosa kata.
Desember, apa kamu juga tahu tentang dirimu sebagai bulan di akhir tahun? Aku pun selalu bersyukur kepada Tuhan karena selalu diberikan nikmat untuk bisa bertemu denganmu dan dengannya. Meski aku tahu pertemuan itu berupa pertemuan akhir, tetapi tak sekalipun aku mengutuki takdir ini.
Desember, kamu menambah rentetan panjang dalam perjalanan hidupku. Perjalanan saat bersamanya pula. Aku pun masih bisa mengingat aroma tubuhnya. Aroma yang tipikal saat kuhirup dari jauh. Bukan aroma parfum apalagi deodoran. Aku juga masih mengingat saat dia tersenyum, rentetan giginya selalu mengingatkanku saat makan jagung. Rapi bukan main.
Aku masih ingat betul saat marah karena dia tidak mengiyakan pergi ke toko jam sebagai rutinitas ulang tahunku. Aku pikir dia sama saja dengan yang lainnya. Ternyata saat aku pulang dia memberikan sesuatu yang tak pernah kuduga. Jam berwarna oranye. Warna kesukaanku. Dia lebih istimewa dari yang kupikirkan.
Aku juga masih ingat saat berjalan jauh karena ban motornya bocor. Aku duduk dan mengibaskan bajuku, berharap ada celah udara yang bisa masuk mendinginkan tubuhku. Sungguh, aku tidak marah dan senang menemaninya. Lalu dia pergi, aku pikir dia merasa bersalah padaku. Namun, dia pergi hanya untuk membelikan tisu agar aku tidak merasa kepanasan lagi.
Desember, duduk bersamanya dan memandang lekat bintang gemintang adalah hal yang paling menyenangkan. Pernah saat kehujanan dan jaketku basah kuyup, dia memberikan jaketnya untukku dan memakai jaketku yang basah. Dia tersenyum. Aku pikir dia sedang mencoba menggodaku. J
Desember, setiap bulan berganti dari Desember 2011 ke Januari, Februari, Maret, dst. Aku selalu menuliskan tulisan untuknya. Bukan tulisan galau tentunya. Karena aku tahu, melalui tulisan dia bisa membaca setiap apa yang kurasakan. Aku pun selalu mengingat-ingat hari dimana setiap pagi yang disyukuri karena masih bisa terbangun menemukan senyumnya. Semua siang yang dihabiskan dengan merindukannya. Juga malam yang ditutup dengan doa memohon kebahagiaannya. Aku menemukan tawa di sisinya.
Saat aku tertawa, aku senantiasa berdoa kepada Tuhan agar Tuhan berkenan mengijinkan dan memberikan banyak nafas padaku saat aku tak sanggup memikul rasa karena senyumannya, memberikan jantung yang senantiasa berdegup saat dia berada di dekatku, dan darah yang berdesir saat aku merasakan keduanya. Namun, jika Tuhan tidak memberikannya kepadaku, aku akan bersabar.
Hanya dia yang selalu tahu aku suka oranye dan pergi ke pasar malam untuk mendapatkan cotton candy dan pedasnya bakso. Dia yang selalu tahu aku yang tidak pernah sanggup menahan dingin yang menusuk tulang. Juga dia yang selalu tahu aku begitu egois dan tidak pernah memikirkan perasaannya. Dia yang selalu berkata, “Beberapa hal yang sebaiknya dikendalikan adalah kesenangan dan keinginan. Keduanya terkadang membuat seseorang hanya memikirkan diri sendiri tanpa peduli orang lain”.
Sungguh, saat bersamanya aku selalu ingin menuliskan cerita dalam diariku. Dalam sebuah novel. Saat bersamanya pula, aku selalu ingin menggambar tentang hatiku. Bahwa aku selalu bahagia berada di sampingnya, meski dia begitu amat sangat menyebalkan.
Perjalalan hidup ini begitu mengajariku bahwa merusak selalu lebih cepat dan lebih mudah daripada membangun. Termasuk dengan kehilangan. Mendapatkan lebih mudah daripada menjaganya. Tapi aku selalu tahu bahwa kehilangan merupakan mekanisme Tuhan yang sedang bekerja untuk mengatur sirkulasi dan distribusi yang sejatinya milik-Nya.
Mungkin kini aku begitu galau. Aku mencoba merefleksikan hal-hal yang kujalani dan dapatkan selama ini. Aku berdiri di sebuah titik yang disebut saat ini, lalu memandang jauh ke masa depan. Aku pun merasakan kegalauan. Galau karena tidak ada kepastian akan masa depan. Namun, aku menengok beberapa tahun lalu ke belakang saat aku merasakan kegalauan yang sama. Aku bisa sampai di titik ini dengan selamat. Oleh karena itu, meskipun saat ini aku didera galau yang sama ketika memandang masa depan, semoga aku masih memiliki kekuatan untuk meyakini bahwa aku akan berhasil melewati masa depan itu seperti halnya aku telah berhasil melampaui masa lalu.
Terima kasih desember, aku ternyata begitu istimewa dan dipertemukan dengan orang yang sangat istimewa. Karena dia, aku tahu arti memiliki kehilangan. Karena dia, aku mampu mendeskripsikan setiap perasaan yang ingun kukatakan. Semoga riuhnya perjalanan ini tidak sampai membuat jiwaku terkoyak.
Terima kasih untuk seluruh kejadian yang awalnya dibenci, daripadamu aku belajar bahwa sesuatu yang sulit diterima terdapat banyak kebaikan yang tak pernah disadari. Sungguh, aku begitu menyayanginya. Aku menitipkannya kepada Tuhan. Suatu saat jika dia memang milikku, dia akan selalu kembali padaku. Sekali kusimpan hatinya, dia tak akan pernah terbang lagi. Andaikan dia pergi, dia akan selalu kembali datang padaku.
Desember begitu istimewa, seperti kamu.

Penuh sayang dalam 30 menit,
Erlita Sari.
Seorang pemimpi yang ingin menjelajah banyak museum dan pasar malam untuk merasakan nikmatnya Cotton Candy.

Wednesday, October 30, 2013

Ingatan Sekolah


Malam ini aku ingin menulis, entah mengapa aku hanya ingin menulis. Lama sekali aku tidak menulis, barangkali otakku menjadi tumpul karena sekian lama tidak menulis. Meski aku tahu komentar orang-orang terhadapku adalah menulis itu alay dan seperti dirundung galau. Mungkin mereka hanya tidak tahu esensi dari menulis. Mereka mungkin tidak bisa mendeskripsi rasa. Butuh banyak imajinasi saat mendeskripsikannya. Dan kini malamku berbeda. Setiap malam berlalu dilalui dengan membaca. Setiap kali membaca membuatku semakin bodoh. Semakin membuatku merasa sangat bodoh dan tidak memiliki ilmu. Konyol sekali. Jadi, aku putuskan untuk menulis. Menulis cerita masa lampau penuh kenangan.
Ini tentang cerita lampau dan hujan, dimana hujan seringkali menyeretku kepada kenangan-kenangan kala itu. Seringkali hujan membuatku tubuh dan hatiku basah. Basah bersama cerita-cerita tempo dulu. Namun, selalu saja aku dibuat mencandu dan merindu dengan semuanya.
Hujan selalu saja membuatku menunggu reda. Menunggu untuk menghirupi syahdunya aroma-aroma basah selepas hujan. Melihat betapa basahnya daun-daun dan ranting. Merasakan betapa dinginnya angin. Ahh, aku mulai rindu.
Dulu, bagiku baju longgar, celana olahraga, potongan cepak, dan tomboy itu keren. Ikut klub basket itu keren. Nyatanya, bagiku sekarang tidak sama sekali. Aku masih ingat betul saat itu, saat 10 tahun yang lalu dimana kita melalui kekonyolan bersama. Baju-baju yang dikeluarkan. Rok panjang penuh resluiting. Jilbab yang terlihat rambut. Laci-laci keramat penuh makanan. Meja penuh dengan tulisan gombal. Tembok-tembok yang dicoret. Pojok ruang kelas untuk pokeran. Jendela-jendela sebesar pintu yang digunakan melompat ke kantin. Kapur-kapur yang disembunyikan. Sepatu-sepatu yang disita karena terlambat masuk sekolah. Kau tahu, aku rindu sekali teman.
Setiap kali aku melalui jalan ini, aku selalu rindu perjalanan kebersamaan kita. Rindu riuh tawa, rindu setiap lontaran kata yang dikeluarkan. Aku sungguh rindu. Rindu tiap pagi selepas gerimis berangkat sekolah. Di jalan menyempatkan diri mengayuh sepeda sambil menghafalkan ayat dan  kandungannya sampai terasa menjemukan. Namun, kini aku rindu.
Saat pelajaran mulai menjemukan, selalu saja meminta izin ke toilet. Padahal nyatanya pergi ke kantin. Pernah juga saat pelajaran berlangsung, kita asyik makan di pojok kelas. Makan dengan mulut ditutupi jilbab. Pernah juga kala itu kita disindir karena makan permen saat pelajaran Tarikh berlangsung. Sungguh, aku tak pernah paham mata pelajaran Tarikh. Di dalamnya banyak sejarah dan tempat yang menurutku sangat asing. Cordova, Andalusia, Turki, Rusia, Bani Umayyah, Bani Abbasyiyah, pemerintahan, dan tetek bengek lainnya. Asing sekali, bukan?
Tidak hanya itu, kita pun harus belajar tentang akhlak. Di dalamnya selalu saja membahas persangkaan dan hati. Dulu, aku bertanya mengapa kita harus belajar seperti itu. Tidak penting. Namun kini, aku mengerti jawabannya bahwa Tuhan itu sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Saat kita melakukan persangkaan sebenarnya alam bawah sadar kita ikut bekerja dan melakukan sugesti. Dan tentang hati, hati yang bersih akan membuat emosi kita terkontrol. Karena menurut Daniel Goleman, sesuai buku yang pernah kubaca, beliau mengatakan bahwa orang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi banyak menempati posisi kunci di dunia eksekutif. Masih ada banyak tentang keterkaitan antara hati, emosi, dan spiritual. Salah satu buku yang membahasnya adalah Quantum Ikhlas, buku yang dibaca jaman SMA. Di dalamnya berisikan ilmu-ilmu mengelola emosi dan spiritual yang baik.
Selain itu ada pelajaran Akhlak yang selalu membahas tentang manusia yang berakal. Dulu, aku selalu berpikir mengapa juga kita harus belajar seperti itu. Bukankah sudah kodratnya? Namun, aku menemukan jawabannya. Setiap 1 kg berat tubuh manusia terdapat kurang lebih 1 trilyun sel dimana kode genetik dalam setiap sel itu tersusun dari 3 miliar huruf-huruf kimia yang tersimpan dalam DNA yang berbentuk heliks. DNA tersebut merupakan elemen kunci yang memungkinkan diteruskannya dari 1 generasi ke generasi berikutnya. Jika ternyata setiap manusia yang dilahirkan punya DNA dan gen yang sama. Kenapa ada orang kuat dan hebat. Sebaliknya ada orang yang merasa lemah dan memilih menjadi pecundang? Jawabanyya adalah kinerja gen dipengaruhi oleh pola pikir manusianya sendiri. Subhanallah sekali, bukan? Sesuai yang buku pernah kubaca, di dalamnya menyebutkan bahwa saat manusia lahir diperkirakan memiliki antara 3 – 5 triliun sel dengan jumlah sel otak kira-kira 100 miliar, sedangkan semut hanya memiliki setengah juga sel syaraf. Dengan demikian, kapasitas berpikir manusia adalah 200 juta kalinya.
Selain itu, ada pelajaran Aqaid, di dalamnya pernah membahas penciptaan manusia. Aku berpikir lagi, untuk  apa kita harus belajar. Dan lagi-lagi aku tahu jawabannya. Itu semua dipelajari agar kita bertafakur dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Tuhan. Di dalam segala penciptaan tak pernah ada yang sia-sia. Manusia diciptakan dari setetes air mani yang hina. Dan manusia tercipta dengan kodrat sebagai seorang pemenang yang telah memenangkan 1 dari 200 – 400 juta sel sperma yang mampu membuahi ovum secara sempurna.
Yang paling menjemukan adalah saat harus mengafalkan ayat dan kandungannya untuk ujian. Sungguh, itu adalah hal yang paling sukar tuk dilakukan jikalau tidak karena terpaksa. Bayangkan saja, menghafalkan beberapa ayat dalam satu waktu sekaligus. Pernah juga diminta menghafalkan 3 ayat terakhir Surat Al Baqarah dalam rentang waktu 1 minggu. Omegooott mengapa aku bersekolah di sini, susah payah aku menghafalnya sore dan pagi. Dan kini, aku malah merindu kegiatan itu karena ternyata hidup itu harus menjaga keseimbangan. Kita harus sama-sama mendapatkan dunia dan akhirat. Bahkan orang-orang yang berilmu diangkat derajatnya. Subhanallah sekali.
Yang paling konyol adalah setiap kali masuk sekolah yang diinginkan adalah segera libur. Dan setiap kali libur yang diinginkan adalah masuk sekolah dan bertemu teman-teman. Konyol. Dan yang paling konyol adalah saat aku harus menemani temanku berkencan. Bodohnya, aku mau saja menunggu dua orang mengobrol. Menunggu orang dimabuk asmara sampai aku “dilalerin”. Melihat orang tersipu malu dengan mawar ada diantara jemarinya. Cinta itu konyol. Dulu, aku tidak pernah mengerti apa itu cinta. Yang aku tahu adalah aku suka menulis, jatuh cinta kepada musik instrumental Richard Clayderman dan kagum kepada sesosok lelaki yang sekarang entah dimana. Wajar kan anak SMP dirundung puppy love. Menandakan bahwa aku mengalami masa pubertas dan bukan maho. Hahaha.
Dan kini, aku begitu rindu bagian-bagian cerita bersama kalian. Rindu saat mendung mengundang dan gerimis datang. Rindu menuju rumah bersama senyum kalian. Rindu manakala mendengar cerita dan suara kalian. Sungguh, aku rindu. Ini semua tentangku, tentang kalian tentang cerita saat ingatan sekolah.

Ditulis dalam kesyahduan selama 35 menit
Ditulis oleh Erlita Sari, seorang pendeksripsi rasa yang menyukai sepeda dan tumpukan cotton candy yang selalu ingin menulis dan membaca. Seorang pengagum sastra dan berharap dapat menjelalajah ratusan museum.

Sunday, October 20, 2013

Lupa Diingat, Sering Dilalaikan. Mati !


Sekitar tahun 1998, saat itu aku berusia 7 tahun. Aku masih ingat betul ketika tetanggaku yang sudah renta meninggal, kala itu keranda hanya terbuat dari beberapa bambu yang diikat. Jenazah yang akan disemayamkan di bawa menuju pembaringan menggunakan keranda dan ditutupi dengan kain berlafadz laa illaha illallah. Beberapa saat, kembang-kembang ditaburkan mengantarkannya menuju tempat terakhir, gemerincing uang logam berjatuhan tak terelak. Seketika itu pula aku melihat ikatan tali jenazah yang berada di kepalanya menyembul keluar di balik kain penutup jenazah. Aku merinding lalu kabur menuju rumah hingga beberapa hari tak nyenyak tidur memikirkan apa yang terjadi.
Selang beberapa bulan kemudian, saudara perempuan yang berusia sekitar 19 tahunan meninggal akibat penyakit yang dideritanya. Aku masih ingat saat jenazahnya diletakkan di ruang tengah lalu di shalati bersama. Saat dimasukkan dalam peti mati, aku sempat memegang kakinya yang telah terbujur kaku dibalut kain putih. Hatiku luluh, ternyata maut tak pernah kenal siapapun.
Tahun 2000, ketika kakekku semakin parah bersama penyakit komplikasi yang dideritanya hingga ia tak tahan lagi dengan segala yang dirasakannya. Segala pemutus kenikmatan yang luar biasa mendadak datang, yakni maut. Aku ingat ketika menyiapkan ember untuk memandikan jenazah dan seusai memadikan lalu menaruh kapur barus di dalamnya. Aku masih ingat ketika mengintip di balik ruangan dimana kakekku diletakkan di sebuah bangku panjang dan telah dibalut kafan. Mendadak aku menangis, aku kehilangan orang yang aku sayangi. Seorang guru yang telah mengabdi puluhan tahun dan selalu memakai sepeda kumbang kesayangannya yang kukagumi, kini telah meninggalkanku.
Aku masih ingat ketika melihat wajahnya untuk terakhir kali. Mendadak kala itu aku ingin menangis, tetapi aku tahan. Aku menangis karena pasti aku akan menyusulnya, meski aku tak pernah tahu kapan. Saat jenazah diangkat, aku mengiringi kepergiannya yang terakhir. Membawa keranjang kembang dan perlahan kulemparkan kembang-kembang tuk mengiringi kepergiannya. Kembang-kembang yang tertiup angin perlahan mulai terkoyak dan mulai kusam, begitu waktu cepat berlalu diantara riuhnya perjalanan hidup.
Ketika liang lahat telah digali, orang-orang membuka keranda yang membawa kakekku. Lalu perlahan memasukkan ke dalamnya. Sungguh, aku merinding, takut luar biasa menyergapku. Seusai memasukkan, mereka menumpuk liang dengan tanah kembali lalu menginjak-injakkan kaki di atas tanah untuk memastikan tanah telah memenuhi liang.
Mati, dimandikan, dikafani, disholati, lalu dikuburkan adalah sesuatu yang sakral. Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Entah kapan, tak pernah ada yang tahu selain Dia. Beranjak pindah dari dunia menuju Allah yang telah menanti kedatangannya.
Beberapa minggu meninggalnya kakekku, tanpa sepengetahuan orang tua, aku bersama saudara perempuanku mempunyai ide gila. Berdua menyusuri areal pasar lalu membeli kembang. Seusai itu, kami selalu memutuskan menjenguk kakek. Kala itu, aku berpikir kembang adalah sesuatu yang dihadiahkan orang yang disayangi. Sehingga, kami berdua membawakan kembang untuk kakek lalu menaburkan di atas kuburannya. Berharap kakek senang dengan kedatangan kami walau aku tak pernah tahu doa apa yang seharusnya disampaikan untuk orang yang meninggal. Namun, di setiap kunjungan gila tanpa orang tua tahu, aku selalu berharap Allah melapangkan kuburannya yang sempit dan gelap itu.
Ide gila tak terhenti di situ, terkadang kami berdua mengambil daun-daun kering satu per satu lalu membuangnya di bak sampah. Kondisi kuburan benar-benar tak terawat, sehingga ide gila itu pun dijalani juga. Bahkan aku sempat dimarahi orang tua karena pulang main terlalu petang, meski mereka tak tahu bahwa aku dan saudaraku membersihkan kuburan dengan mengambili sampah berserakan.
Ketika aku melihat kuburan, payung yang disematkan diantara gundukan tanah, aku selalu saja membayangkan maut akan menjemputku dan seketika itu aku merinding. Bahkan aku sempat berpikiran untuk berada di samping gundukan tanah yang baru saja diletakkan mayat di dalamnya agar aku dapat mendengar pertanyaan malaikat , sehingga ketika aku ditanyai malaikat maka aku dapat menjawabnya dengan benar dan akhirnya lolos ujian.
Ketika keluarga dan saudara-saudaraku berkunjung ke makam kakek buyut di daerah Boyolali, mereka selalu membacakan surat yasin untuknya. Aku tak mengerti mengapa harus begitu, tetapi aku selalu berdoa untuk keselamatannya agar ia ditemani Allah di kuburan kecil itu.
Dan sampai saat ini ketika aku telah berusia genap 21 tahun, aku masih tak mengerti saat aku membaca buku yang menjelaskan kematian, selalu saja ada orang yang menganggapku aneh. Apakah kematian itu juga aneh menurut mereka? Bukankah setiap orang akan mengalami sakratul maut dan setiap sakratul maut pasti akan membawa diri pada kematian? Mati itu beranjak pindah, dari alam dunia ke alam barzakh lalu menemui orang yang dicintai. Siapa yang menolak untuk bertemu dengan orang yang dicintai (Allah)? Pasti tidak ada. Mati itu sesuatu yang selalu mengintai kapanpun kita berada dan setiapa hembusan nafas adalah hembusan jatah umur yang hilang. Semoga kita senantiasa mampu memaknai setiap anugerah kehidupan yang Dia berikan.

Satu Kosa Kata yang Sakral, Menikah!

Kegalauan ini setiap malam menghantuiku dan lebih menyeramkan dari kosku dahulu yang ada 54 kamar dengan banyak hantunya. Kegalauan ini terjadi akibatnya labilnya hati. Ya maklum saja, bagaimana aku tidak galau karena sebentar lagi aku akan menyandang gelar sarjana. Itu artinya, aku sah menjadi jobseeker. Yang lebih membuatku galau adalah banyaknya temanku yang kini menyadang status yang sangat sakral, menikah. Ya wajar saja, menurut undang-undang pernikahan usia 23 sudah diperbolehkan.
Aku bertanya kepada diriku sendiri mengapa sampai saat ini aku masih sendiri. Menyedihkan sekali. Tidak enak rasanya menanggung banyak hal sendirian. Aku telah membaca bertumpuk-tumpuk buku tentang pernikahan. Di dalamnya isinya indah-indah hingga menjadikanku untuk bersegera menjalankan sebagian dari iman itu. Melewati banyak hari dan perasaan bersama seseorang yang sangat menyayangi dan mengasihi kita.
Berbicara soal mengasihi, aku selalu saja menemui bahwa seseorang yang kita kasihi justru mengasihi orang lain. Kita mati-matian merindukan dan mencemaskannya. Padahal yang dirindukan dan dicemaskan saja santai. Bagaimana tidak santai, wong istri/suami saja juga bukan kok.
Menikah itu menjadikan hati tenteram dan ada rasa kecenderungan padanya. Setiap suka dan duka dilalui bersama. Setiap beban dipikul bersama. Semuanya tentang kebersamaan menuju kebaikan dan ridho-Nya. Alangkah bahagianya kita hidup bersama seseorang yang tidak hanya menemani, tetapi juga menyayangi secara tulus karena Allah. Menggantungkan banyak harapan kepada Allah secara bersama-sama. Shalat bersama, puasa bersama, makan bersama, berbagai rasa bersama. Indah sekali bukan?
Aduh, otakku yang single ini menyebabkanku memikirkan segala hal yang indah. Tentang kebersamaan dan tentang rasa ketenteraman. Namun, sampai sekarang aku masih berpikir mengapa diriku tak juga segera menemukan pelabuhan dan sandaran hati. Ada 5 kemungkinan, yang pertama adalah bisa jadi jodohku itu tertahan karena sedang bersama yang lain. Kedua, bisa jadi jodohku belum segera dipertemukan denganku karena sibuk dengan memperbaiki dirinya. Ketiga, bisa jadi doa dan usahaku belum sepenuhnya maksimal. Intinya ya belum benar dalam menjalankan niat dan usaha. Keempat, kau sudah menemukannya, tetapi kau masih menunggu karena tak juga dilamarnya. Kelima, kau sudah mencarinya, tetapi kau tidak peka juga jika ia sesungguhnya dekat.
Dalam menjalin hubungan yang serius alias menikah, kita tidak perlu mencari sosok yang ideal dan sempurna. Sempurna itu milik Maha Sempurna. Dalam mencari sosok pendamping hidup yang setia hanya perlu satu hal yang diperhatikan. Tidak perlu kita mencarinya karena fisik atau hartanya. Hanya perlu satu hal itu, yakni iman. Dengan iman yang baik, dia tidak hanya menyayangimu secara tulus, tetapi juga menjaga hatimu, setia kepadamu, membantumu dalam setiap keluh kesah, menemanimu dalam berbagai keadaan, mengusap lembut hatimu manakala kamu sedang emosional, dan lain sebagainya. Dia akan membuatmu lebih mencintai Sang Maha Cinta. Membimbingmu dalam kebaikan dan senantiasa berdoa kepada Allah agar kamu diberikan banyak kelimpahan nikmat dan kecenderungan hati hanya padanya.
Menikah itu sejatinya untuk membina keluarga bahagia dan memperoleh keturunan yang baik (baik secara emosional, intelektual, dan spiritual). Perasaan saling mencintai tercermin dalam perilaku sehari-hari dari bangun tidur hingga tidur lagi. Apabila rumah tangga terpelihara secara harmonis, kesehatan secara fisik maupun psikis pun juga akan didapatkan. Berdasarkan hasil riset, menikah bisa mengurangi kemungkinan stroke, menurunkan tekanan darah, meningkatkan kesehatan jantung, mengurangi resiko terkena dimensia, menjadikan umur panjang, dsb. Selain mendapat pahala, rumah tangga harmonis berdampak positif secara sosial ekonomi. Menguatkan kepribadian, bahkan mengalirkan rejeki. Subhanallah sekali.
Ternyata menikah itu banyak manfaatnya ya. Semoga kita (yang belum menikah) disegerakan oleh Allah untuk segera bertemu dengan jodoh. Jika belum, itu artinya manfaatkan waktu untuk memperbaiki diri dan iman. Jodoh itu cerminan. Dalam Al-quran juga disebutkan bahwa orang yang baik itu jodohnya juga orang baik pula.
Ya Rabb, jikalau Engkau masih menyembunyikan jodohku, maka itu artinya aku harus berusaha dan berdoa lebih giat lagi. Pertemukan dan jodohkanlah dengan seseorang yang mencintai-Mu hingga karena-MU pula aku mencintainya. Jadikanku golongan orang-orang bersyukur lagi bersabar atas segala ketentuan-Mu. Hanya Engkau tempat bersandar lagi memohon. Engkau pula yang selalu tahu atas ketidaktahuanku. Engkau selalu memberikan apa yang kubutuhkan, bukan yang diinginkan. Atas kehendak-Mu, ikatkanlah hati ini menuju keridhoan-Mu dan segala harap tertuju kepada-Mu. Duhai Maha Penyayang diantara para penyayang, berilah seorang penyayang untukku. Jangan palingkan ia daripadaku manakala lelah menderaku, miskin menghantuiku, dan keriput melanda wajahku. Rabb, lapangkan segala dada yang sempit. Limpahkan rejeki-Mu. Jikalau ia berada di langit, maka turunkanlah. Jika ia berada di bumi, maka keluarkanlah. Duhai Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang tempat yang paling pantas menggantungkan harapan. Semoga kegalauanku ini tidak menjadikanku serta merta berputus asa. Amiin.

Klaten, 18 Oktober 2013
Seorang yang penuh banyak harap
Ditulis begitu saja selama 30 menit hanay untuk mereduksi galau

Thursday, October 17, 2013

Berawal dari Peron 1- Perjalanan Menuju Cirebon 3 Tahun Lalu-



            Aku merasakan sesuatu mengalir membasahi wajahku dan semakin lama menjadi lembab lalu lengket. Tidak hanya itu, rasanya asam laktat mulai memenuhi otot-ototku, akibatnya tak lain adalah lelah pun menyumpali tubuhku secara paksa. Namun, aku masih melihat rona-rona senyuman yang menyejukkan dan secara tak sabar ingin menikmati liburan yang berbeda kali ini. Ya, beberapa jam yang lalu, tiga orang adik kost-ku telah memesan tiket kereta api kelas ekonomi untuk membawa kami ke wilayah yang sebelumnya belum pernah kujamah apalagi aku lihat. Dan akhirnya, kini aku telah terperangkap dalam sebuah alat transportasi taksi yang mengangkut kami menuju stasiun Lempuyangan, Yogyakarta.
            Rencana liburan telah kami buat sesempurna mungkin yang tentunya dengan khayalan tingkat tinggi dan banyak agenda juga tersusun di otak kami dari beberapa bulan yang lalu sebelum Ujian Tengah Semester. Bahkan saat waktu senggang di kost, pembicaraan kami hanyalah tentang liburan yang penuh esensi. Tiap bahan bicara kami berisikan kata-kata yang bersugesti agar kami dapat secara cepat menikmati liburan dan berharap ujian cepat selesai, meskipun saat itu belum  memasuki waktu ujian.
Hingga tiba akhirnya, aku telah terperangkap disini bersama mereka dan memasuki kawasan stasiun. Ya, di peron, selama beberapa jam menunggu giliran kereta kami datang untuk membawa kami meninggalkan Kota Yogyakarta yang penuh cinta ini. Di hatiku yang paling dalam timbul rasa penasaranku akan kota yang dijadikan liburan kali ini, tetapi sebenarnya aku juga memiliki keraguan untuk melaksanakan liburan yang benar-benar jauh dari tempat tinggalku.
            Tentunya, liburan kali ini berbeda dengan liburan-liburanku yang lain. Aku harus meminimalisir pengeluaran jajanku hanya untuk dapat merasakan liburan di suatu daerah yang belum kujamah. Dengan kata lain, aku telah bersusah payah untuk menabung demi merasakan liburan yang tak akan terlupakan. Namun, aku yakin bahwa aku telah berusaha untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.
            Dan kini, aku telah berada di peron bersama ketiga adik kost-ku yang beberapa jam sebelumnya aku bertolak dari Yogyakarta menuju Klaten bersama teman-temanku untuk menikmati keindahan kota Klaten yang bersinar selalu itu.
            Aku masih menunggu kereta dan tetap menunggu hingga saat jarum jam menunjukkan pukul 5 sore, dari kejauhan tampak kereta yang mulai menuju stasiun. Kami pun bersiap untuk segera menaiki gerbong kereta. Beberapa menit kemudian, aku telah duduk di kursi kereta kelas ekonomi.

Rindu itu, kau


Aku bertanya, kau bergeming. Kau bilang semuanya itu retoris. Padahal ada banyak hal yang bisa dijawab. Dan kini, aku harus bagaimana. Aku gantungkan segala hati hanya padamu. Aku pikir kau akan menjaganya baik-baik. Aku pikir semua tentangmu itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Senja, cotton candy, hujan, senyum, dan semuanya.
Yang aku tahu menikmati senja bersamamu adalah bagian terindah di hidupku. Duduk di sampingmu sambil menahan napas berusaha menormalkan degup jantungku yang tak beraturan. Lalu dengan mencurilah aku mampu memandangi wajahmu yang terbiaskan sinar senja. Kau tersenyum dan aku bersembunyi. Berusaha membohongi diri bahwa aku juga ikut menikmati senja. Padahal tidak, sekalipun tidak.
Saat aku melahap cotton candy-ku sambil melihatmu tersenyum, itu saja sudah melumpuhkan hatiku. Kau tahu? Setiap gigitan cotton candy yang lumer di mulutku itu rasanya seperti hatiku yang melumer karenamu. Manis dan warnanya itu membuatku yakin bahwa itu sama manis dan berwarnanya saat menjalani senja bersamamu.
Dan kau tahu? Saat hujan, mendung mengundang. Yang selalu kutahu di dalamnya ada gambarnya: kau lagi, kau lagi. Aku tertawa, mereduksi rasa. Mengusir setiap bayanganmu yang senantiasa tak kunjung pergi. Tak bisa diingkari, nyatanya juga selalu begitu.
Apa kau tahu? Setiap yang kita lewati bersama –senja, cotton candy, hujan, dan senyuman– itu sangat menyesakkan rongga dadaku. Rongga yang dulunya kosong, sekarang terisi penuh. Penuh dengan banyaknya rindu padamu. Kau tahu? Rinduku ini tidak gratis. Aku selalu berharap akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Jika tidak, maka aku berhutang pada waktu, dan juga kamu. Rindu itu kau. Semesta nyaman yang berjajar.