Thursday, October 17, 2013

Rindu itu, kau


Aku bertanya, kau bergeming. Kau bilang semuanya itu retoris. Padahal ada banyak hal yang bisa dijawab. Dan kini, aku harus bagaimana. Aku gantungkan segala hati hanya padamu. Aku pikir kau akan menjaganya baik-baik. Aku pikir semua tentangmu itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Senja, cotton candy, hujan, senyum, dan semuanya.
Yang aku tahu menikmati senja bersamamu adalah bagian terindah di hidupku. Duduk di sampingmu sambil menahan napas berusaha menormalkan degup jantungku yang tak beraturan. Lalu dengan mencurilah aku mampu memandangi wajahmu yang terbiaskan sinar senja. Kau tersenyum dan aku bersembunyi. Berusaha membohongi diri bahwa aku juga ikut menikmati senja. Padahal tidak, sekalipun tidak.
Saat aku melahap cotton candy-ku sambil melihatmu tersenyum, itu saja sudah melumpuhkan hatiku. Kau tahu? Setiap gigitan cotton candy yang lumer di mulutku itu rasanya seperti hatiku yang melumer karenamu. Manis dan warnanya itu membuatku yakin bahwa itu sama manis dan berwarnanya saat menjalani senja bersamamu.
Dan kau tahu? Saat hujan, mendung mengundang. Yang selalu kutahu di dalamnya ada gambarnya: kau lagi, kau lagi. Aku tertawa, mereduksi rasa. Mengusir setiap bayanganmu yang senantiasa tak kunjung pergi. Tak bisa diingkari, nyatanya juga selalu begitu.
Apa kau tahu? Setiap yang kita lewati bersama –senja, cotton candy, hujan, dan senyuman– itu sangat menyesakkan rongga dadaku. Rongga yang dulunya kosong, sekarang terisi penuh. Penuh dengan banyaknya rindu padamu. Kau tahu? Rinduku ini tidak gratis. Aku selalu berharap akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Jika tidak, maka aku berhutang pada waktu, dan juga kamu. Rindu itu kau. Semesta nyaman yang berjajar.

No comments:

Post a Comment