Aku bertanya, kau bergeming. Kau bilang semuanya itu
retoris. Padahal ada banyak hal yang bisa dijawab. Dan kini, aku harus
bagaimana. Aku gantungkan segala hati hanya padamu. Aku pikir kau akan
menjaganya baik-baik. Aku pikir semua tentangmu itu adalah hal yang sangat
menyenangkan. Senja, cotton candy, hujan, senyum, dan semuanya.
Yang aku tahu menikmati senja bersamamu adalah bagian
terindah di hidupku. Duduk di sampingmu sambil menahan napas berusaha
menormalkan degup jantungku yang tak beraturan. Lalu dengan mencurilah aku
mampu memandangi wajahmu yang terbiaskan sinar senja. Kau tersenyum dan aku bersembunyi.
Berusaha membohongi diri bahwa aku juga ikut menikmati senja. Padahal tidak,
sekalipun tidak.
Saat aku melahap cotton candy-ku sambil melihatmu tersenyum,
itu saja sudah melumpuhkan hatiku. Kau tahu? Setiap gigitan cotton candy yang
lumer di mulutku itu rasanya seperti hatiku yang melumer karenamu. Manis dan
warnanya itu membuatku yakin bahwa itu sama manis dan berwarnanya saat
menjalani senja bersamamu.
Dan kau tahu? Saat hujan, mendung mengundang. Yang selalu
kutahu di dalamnya ada gambarnya: kau lagi, kau lagi. Aku tertawa, mereduksi
rasa. Mengusir setiap bayanganmu yang senantiasa tak kunjung pergi. Tak bisa
diingkari, nyatanya juga selalu begitu.
Apa kau tahu? Setiap yang kita lewati bersama –senja, cotton
candy, hujan, dan senyuman– itu sangat menyesakkan rongga dadaku. Rongga yang
dulunya kosong, sekarang terisi penuh. Penuh dengan banyaknya rindu padamu. Kau
tahu? Rinduku ini tidak gratis. Aku selalu berharap akan ada
pertemuan-pertemuan selanjutnya. Jika tidak, maka aku berhutang pada waktu, dan
juga kamu. Rindu itu kau. Semesta nyaman yang berjajar.
No comments:
Post a Comment