Malam ini aku ingin menulis,
entah mengapa aku hanya ingin menulis. Lama sekali aku tidak menulis,
barangkali otakku menjadi tumpul karena sekian lama tidak menulis. Meski aku
tahu komentar orang-orang terhadapku adalah menulis itu alay dan seperti
dirundung galau. Mungkin mereka hanya tidak tahu esensi dari menulis. Mereka mungkin
tidak bisa mendeskripsi rasa. Butuh banyak imajinasi saat mendeskripsikannya. Dan
kini malamku berbeda. Setiap malam berlalu dilalui dengan membaca. Setiap kali
membaca membuatku semakin bodoh. Semakin membuatku merasa sangat bodoh dan
tidak memiliki ilmu. Konyol sekali. Jadi, aku putuskan untuk menulis. Menulis
cerita masa lampau penuh kenangan.
Ini tentang cerita lampau dan
hujan, dimana hujan seringkali menyeretku kepada kenangan-kenangan kala itu.
Seringkali hujan membuatku tubuh dan hatiku basah. Basah bersama cerita-cerita
tempo dulu. Namun, selalu saja aku dibuat mencandu dan merindu dengan semuanya.
Hujan selalu saja membuatku
menunggu reda. Menunggu untuk menghirupi syahdunya aroma-aroma basah selepas hujan.
Melihat betapa basahnya daun-daun dan ranting. Merasakan betapa dinginnya
angin. Ahh, aku mulai rindu.
Dulu, bagiku baju longgar, celana
olahraga, potongan cepak, dan tomboy itu keren. Ikut klub basket itu keren. Nyatanya,
bagiku sekarang tidak sama sekali. Aku masih ingat betul saat itu, saat 10
tahun yang lalu dimana kita melalui kekonyolan bersama. Baju-baju yang
dikeluarkan. Rok panjang penuh resluiting. Jilbab yang terlihat rambut. Laci-laci
keramat penuh makanan. Meja penuh dengan tulisan gombal. Tembok-tembok yang
dicoret. Pojok ruang kelas untuk pokeran. Jendela-jendela sebesar pintu yang
digunakan melompat ke kantin. Kapur-kapur yang disembunyikan. Sepatu-sepatu
yang disita karena terlambat masuk sekolah. Kau tahu, aku rindu sekali teman.
Setiap kali aku melalui jalan
ini, aku selalu rindu perjalanan kebersamaan kita. Rindu riuh tawa, rindu
setiap lontaran kata yang dikeluarkan. Aku sungguh rindu. Rindu tiap pagi
selepas gerimis berangkat sekolah. Di jalan menyempatkan diri mengayuh sepeda
sambil menghafalkan ayat dan
kandungannya sampai terasa menjemukan. Namun, kini aku rindu.
Saat pelajaran mulai menjemukan,
selalu saja meminta izin ke toilet. Padahal nyatanya pergi ke kantin. Pernah juga
saat pelajaran berlangsung, kita asyik makan di pojok kelas. Makan dengan mulut
ditutupi jilbab. Pernah juga kala itu kita disindir karena makan permen saat
pelajaran Tarikh berlangsung. Sungguh, aku tak pernah paham mata pelajaran
Tarikh. Di dalamnya banyak sejarah dan tempat yang menurutku sangat asing.
Cordova, Andalusia, Turki, Rusia, Bani Umayyah, Bani Abbasyiyah, pemerintahan,
dan tetek bengek lainnya. Asing sekali, bukan?
Tidak hanya itu, kita pun harus
belajar tentang akhlak. Di dalamnya selalu saja membahas persangkaan dan hati.
Dulu, aku bertanya mengapa kita harus belajar seperti itu. Tidak penting. Namun
kini, aku mengerti jawabannya bahwa Tuhan itu sesuai dengan persangkaan
hamba-Nya. Saat kita melakukan persangkaan sebenarnya alam bawah sadar kita
ikut bekerja dan melakukan sugesti. Dan tentang hati, hati yang bersih akan
membuat emosi kita terkontrol. Karena menurut Daniel Goleman, sesuai buku yang
pernah kubaca, beliau mengatakan bahwa orang yang memiliki kecerdasan emosional
yang tinggi banyak menempati posisi kunci di dunia eksekutif. Masih ada banyak
tentang keterkaitan antara hati, emosi, dan spiritual. Salah satu buku yang
membahasnya adalah Quantum Ikhlas, buku yang dibaca jaman SMA. Di dalamnya
berisikan ilmu-ilmu mengelola emosi dan spiritual yang baik.
Selain itu ada pelajaran Akhlak
yang selalu membahas tentang manusia yang berakal. Dulu, aku selalu berpikir
mengapa juga kita harus belajar seperti itu. Bukankah sudah kodratnya? Namun,
aku menemukan jawabannya. Setiap 1 kg berat tubuh manusia terdapat kurang lebih
1 trilyun sel dimana kode genetik dalam setiap sel itu tersusun dari 3 miliar
huruf-huruf kimia yang tersimpan dalam DNA yang berbentuk heliks. DNA tersebut
merupakan elemen kunci yang memungkinkan diteruskannya dari 1 generasi ke
generasi berikutnya. Jika ternyata setiap manusia yang dilahirkan punya DNA dan
gen yang sama. Kenapa ada orang kuat dan hebat. Sebaliknya ada orang yang merasa
lemah dan memilih menjadi pecundang? Jawabanyya adalah kinerja gen dipengaruhi
oleh pola pikir manusianya sendiri. Subhanallah sekali, bukan? Sesuai yang buku
pernah kubaca, di dalamnya menyebutkan bahwa saat manusia lahir diperkirakan
memiliki antara 3 – 5 triliun sel dengan jumlah sel otak kira-kira 100 miliar,
sedangkan semut hanya memiliki setengah juga sel syaraf. Dengan demikian,
kapasitas berpikir manusia adalah 200 juta kalinya.
Selain itu, ada pelajaran Aqaid,
di dalamnya pernah membahas penciptaan manusia. Aku berpikir lagi, untuk apa kita harus belajar. Dan lagi-lagi aku
tahu jawabannya. Itu semua dipelajari agar kita bertafakur dan bersyukur atas
segala nikmat yang diberikan Tuhan. Di dalam segala penciptaan tak pernah ada
yang sia-sia. Manusia diciptakan dari setetes air mani yang hina. Dan manusia
tercipta dengan kodrat sebagai seorang pemenang yang telah memenangkan 1 dari
200 – 400 juta sel sperma yang mampu membuahi ovum secara sempurna.
Yang paling menjemukan adalah
saat harus mengafalkan ayat dan kandungannya untuk ujian. Sungguh, itu adalah
hal yang paling sukar tuk dilakukan jikalau tidak karena terpaksa. Bayangkan saja,
menghafalkan beberapa ayat dalam satu waktu sekaligus. Pernah juga diminta
menghafalkan 3 ayat terakhir Surat Al Baqarah dalam rentang waktu 1 minggu. Omegooott
mengapa aku bersekolah di sini, susah payah aku menghafalnya sore dan pagi. Dan
kini, aku malah merindu kegiatan itu karena ternyata hidup itu harus menjaga
keseimbangan. Kita harus sama-sama mendapatkan dunia dan akhirat. Bahkan
orang-orang yang berilmu diangkat derajatnya. Subhanallah sekali.
Yang paling konyol adalah setiap
kali masuk sekolah yang diinginkan adalah segera libur. Dan setiap kali libur
yang diinginkan adalah masuk sekolah dan bertemu teman-teman. Konyol. Dan yang
paling konyol adalah saat aku harus menemani temanku berkencan. Bodohnya, aku
mau saja menunggu dua orang mengobrol. Menunggu orang dimabuk asmara sampai aku
“dilalerin”. Melihat orang tersipu malu dengan mawar ada diantara jemarinya. Cinta
itu konyol. Dulu, aku tidak pernah mengerti apa itu cinta. Yang aku tahu adalah
aku suka menulis, jatuh cinta kepada musik instrumental Richard Clayderman dan
kagum kepada sesosok lelaki yang sekarang entah dimana. Wajar kan anak SMP
dirundung puppy love. Menandakan bahwa aku mengalami masa pubertas dan bukan
maho. Hahaha.
Dan kini, aku begitu rindu
bagian-bagian cerita bersama kalian. Rindu saat mendung mengundang dan gerimis
datang. Rindu menuju rumah bersama senyum kalian. Rindu manakala mendengar
cerita dan suara kalian. Sungguh, aku rindu. Ini semua tentangku, tentang
kalian tentang cerita saat ingatan sekolah.
Ditulis dalam kesyahduan selama
35 menit
Ditulis oleh Erlita Sari, seorang
pendeksripsi rasa yang menyukai sepeda dan tumpukan cotton candy yang selalu
ingin menulis dan membaca. Seorang pengagum sastra dan berharap dapat
menjelalajah ratusan museum.
No comments:
Post a Comment