Wednesday, October 30, 2013

Ingatan Sekolah


Malam ini aku ingin menulis, entah mengapa aku hanya ingin menulis. Lama sekali aku tidak menulis, barangkali otakku menjadi tumpul karena sekian lama tidak menulis. Meski aku tahu komentar orang-orang terhadapku adalah menulis itu alay dan seperti dirundung galau. Mungkin mereka hanya tidak tahu esensi dari menulis. Mereka mungkin tidak bisa mendeskripsi rasa. Butuh banyak imajinasi saat mendeskripsikannya. Dan kini malamku berbeda. Setiap malam berlalu dilalui dengan membaca. Setiap kali membaca membuatku semakin bodoh. Semakin membuatku merasa sangat bodoh dan tidak memiliki ilmu. Konyol sekali. Jadi, aku putuskan untuk menulis. Menulis cerita masa lampau penuh kenangan.
Ini tentang cerita lampau dan hujan, dimana hujan seringkali menyeretku kepada kenangan-kenangan kala itu. Seringkali hujan membuatku tubuh dan hatiku basah. Basah bersama cerita-cerita tempo dulu. Namun, selalu saja aku dibuat mencandu dan merindu dengan semuanya.
Hujan selalu saja membuatku menunggu reda. Menunggu untuk menghirupi syahdunya aroma-aroma basah selepas hujan. Melihat betapa basahnya daun-daun dan ranting. Merasakan betapa dinginnya angin. Ahh, aku mulai rindu.
Dulu, bagiku baju longgar, celana olahraga, potongan cepak, dan tomboy itu keren. Ikut klub basket itu keren. Nyatanya, bagiku sekarang tidak sama sekali. Aku masih ingat betul saat itu, saat 10 tahun yang lalu dimana kita melalui kekonyolan bersama. Baju-baju yang dikeluarkan. Rok panjang penuh resluiting. Jilbab yang terlihat rambut. Laci-laci keramat penuh makanan. Meja penuh dengan tulisan gombal. Tembok-tembok yang dicoret. Pojok ruang kelas untuk pokeran. Jendela-jendela sebesar pintu yang digunakan melompat ke kantin. Kapur-kapur yang disembunyikan. Sepatu-sepatu yang disita karena terlambat masuk sekolah. Kau tahu, aku rindu sekali teman.
Setiap kali aku melalui jalan ini, aku selalu rindu perjalanan kebersamaan kita. Rindu riuh tawa, rindu setiap lontaran kata yang dikeluarkan. Aku sungguh rindu. Rindu tiap pagi selepas gerimis berangkat sekolah. Di jalan menyempatkan diri mengayuh sepeda sambil menghafalkan ayat dan  kandungannya sampai terasa menjemukan. Namun, kini aku rindu.
Saat pelajaran mulai menjemukan, selalu saja meminta izin ke toilet. Padahal nyatanya pergi ke kantin. Pernah juga saat pelajaran berlangsung, kita asyik makan di pojok kelas. Makan dengan mulut ditutupi jilbab. Pernah juga kala itu kita disindir karena makan permen saat pelajaran Tarikh berlangsung. Sungguh, aku tak pernah paham mata pelajaran Tarikh. Di dalamnya banyak sejarah dan tempat yang menurutku sangat asing. Cordova, Andalusia, Turki, Rusia, Bani Umayyah, Bani Abbasyiyah, pemerintahan, dan tetek bengek lainnya. Asing sekali, bukan?
Tidak hanya itu, kita pun harus belajar tentang akhlak. Di dalamnya selalu saja membahas persangkaan dan hati. Dulu, aku bertanya mengapa kita harus belajar seperti itu. Tidak penting. Namun kini, aku mengerti jawabannya bahwa Tuhan itu sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Saat kita melakukan persangkaan sebenarnya alam bawah sadar kita ikut bekerja dan melakukan sugesti. Dan tentang hati, hati yang bersih akan membuat emosi kita terkontrol. Karena menurut Daniel Goleman, sesuai buku yang pernah kubaca, beliau mengatakan bahwa orang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi banyak menempati posisi kunci di dunia eksekutif. Masih ada banyak tentang keterkaitan antara hati, emosi, dan spiritual. Salah satu buku yang membahasnya adalah Quantum Ikhlas, buku yang dibaca jaman SMA. Di dalamnya berisikan ilmu-ilmu mengelola emosi dan spiritual yang baik.
Selain itu ada pelajaran Akhlak yang selalu membahas tentang manusia yang berakal. Dulu, aku selalu berpikir mengapa juga kita harus belajar seperti itu. Bukankah sudah kodratnya? Namun, aku menemukan jawabannya. Setiap 1 kg berat tubuh manusia terdapat kurang lebih 1 trilyun sel dimana kode genetik dalam setiap sel itu tersusun dari 3 miliar huruf-huruf kimia yang tersimpan dalam DNA yang berbentuk heliks. DNA tersebut merupakan elemen kunci yang memungkinkan diteruskannya dari 1 generasi ke generasi berikutnya. Jika ternyata setiap manusia yang dilahirkan punya DNA dan gen yang sama. Kenapa ada orang kuat dan hebat. Sebaliknya ada orang yang merasa lemah dan memilih menjadi pecundang? Jawabanyya adalah kinerja gen dipengaruhi oleh pola pikir manusianya sendiri. Subhanallah sekali, bukan? Sesuai yang buku pernah kubaca, di dalamnya menyebutkan bahwa saat manusia lahir diperkirakan memiliki antara 3 – 5 triliun sel dengan jumlah sel otak kira-kira 100 miliar, sedangkan semut hanya memiliki setengah juga sel syaraf. Dengan demikian, kapasitas berpikir manusia adalah 200 juta kalinya.
Selain itu, ada pelajaran Aqaid, di dalamnya pernah membahas penciptaan manusia. Aku berpikir lagi, untuk  apa kita harus belajar. Dan lagi-lagi aku tahu jawabannya. Itu semua dipelajari agar kita bertafakur dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Tuhan. Di dalam segala penciptaan tak pernah ada yang sia-sia. Manusia diciptakan dari setetes air mani yang hina. Dan manusia tercipta dengan kodrat sebagai seorang pemenang yang telah memenangkan 1 dari 200 – 400 juta sel sperma yang mampu membuahi ovum secara sempurna.
Yang paling menjemukan adalah saat harus mengafalkan ayat dan kandungannya untuk ujian. Sungguh, itu adalah hal yang paling sukar tuk dilakukan jikalau tidak karena terpaksa. Bayangkan saja, menghafalkan beberapa ayat dalam satu waktu sekaligus. Pernah juga diminta menghafalkan 3 ayat terakhir Surat Al Baqarah dalam rentang waktu 1 minggu. Omegooott mengapa aku bersekolah di sini, susah payah aku menghafalnya sore dan pagi. Dan kini, aku malah merindu kegiatan itu karena ternyata hidup itu harus menjaga keseimbangan. Kita harus sama-sama mendapatkan dunia dan akhirat. Bahkan orang-orang yang berilmu diangkat derajatnya. Subhanallah sekali.
Yang paling konyol adalah setiap kali masuk sekolah yang diinginkan adalah segera libur. Dan setiap kali libur yang diinginkan adalah masuk sekolah dan bertemu teman-teman. Konyol. Dan yang paling konyol adalah saat aku harus menemani temanku berkencan. Bodohnya, aku mau saja menunggu dua orang mengobrol. Menunggu orang dimabuk asmara sampai aku “dilalerin”. Melihat orang tersipu malu dengan mawar ada diantara jemarinya. Cinta itu konyol. Dulu, aku tidak pernah mengerti apa itu cinta. Yang aku tahu adalah aku suka menulis, jatuh cinta kepada musik instrumental Richard Clayderman dan kagum kepada sesosok lelaki yang sekarang entah dimana. Wajar kan anak SMP dirundung puppy love. Menandakan bahwa aku mengalami masa pubertas dan bukan maho. Hahaha.
Dan kini, aku begitu rindu bagian-bagian cerita bersama kalian. Rindu saat mendung mengundang dan gerimis datang. Rindu menuju rumah bersama senyum kalian. Rindu manakala mendengar cerita dan suara kalian. Sungguh, aku rindu. Ini semua tentangku, tentang kalian tentang cerita saat ingatan sekolah.

Ditulis dalam kesyahduan selama 35 menit
Ditulis oleh Erlita Sari, seorang pendeksripsi rasa yang menyukai sepeda dan tumpukan cotton candy yang selalu ingin menulis dan membaca. Seorang pengagum sastra dan berharap dapat menjelalajah ratusan museum.

No comments:

Post a Comment