Sunday, October 20, 2013

Lupa Diingat, Sering Dilalaikan. Mati !


Sekitar tahun 1998, saat itu aku berusia 7 tahun. Aku masih ingat betul ketika tetanggaku yang sudah renta meninggal, kala itu keranda hanya terbuat dari beberapa bambu yang diikat. Jenazah yang akan disemayamkan di bawa menuju pembaringan menggunakan keranda dan ditutupi dengan kain berlafadz laa illaha illallah. Beberapa saat, kembang-kembang ditaburkan mengantarkannya menuju tempat terakhir, gemerincing uang logam berjatuhan tak terelak. Seketika itu pula aku melihat ikatan tali jenazah yang berada di kepalanya menyembul keluar di balik kain penutup jenazah. Aku merinding lalu kabur menuju rumah hingga beberapa hari tak nyenyak tidur memikirkan apa yang terjadi.
Selang beberapa bulan kemudian, saudara perempuan yang berusia sekitar 19 tahunan meninggal akibat penyakit yang dideritanya. Aku masih ingat saat jenazahnya diletakkan di ruang tengah lalu di shalati bersama. Saat dimasukkan dalam peti mati, aku sempat memegang kakinya yang telah terbujur kaku dibalut kain putih. Hatiku luluh, ternyata maut tak pernah kenal siapapun.
Tahun 2000, ketika kakekku semakin parah bersama penyakit komplikasi yang dideritanya hingga ia tak tahan lagi dengan segala yang dirasakannya. Segala pemutus kenikmatan yang luar biasa mendadak datang, yakni maut. Aku ingat ketika menyiapkan ember untuk memandikan jenazah dan seusai memadikan lalu menaruh kapur barus di dalamnya. Aku masih ingat ketika mengintip di balik ruangan dimana kakekku diletakkan di sebuah bangku panjang dan telah dibalut kafan. Mendadak aku menangis, aku kehilangan orang yang aku sayangi. Seorang guru yang telah mengabdi puluhan tahun dan selalu memakai sepeda kumbang kesayangannya yang kukagumi, kini telah meninggalkanku.
Aku masih ingat ketika melihat wajahnya untuk terakhir kali. Mendadak kala itu aku ingin menangis, tetapi aku tahan. Aku menangis karena pasti aku akan menyusulnya, meski aku tak pernah tahu kapan. Saat jenazah diangkat, aku mengiringi kepergiannya yang terakhir. Membawa keranjang kembang dan perlahan kulemparkan kembang-kembang tuk mengiringi kepergiannya. Kembang-kembang yang tertiup angin perlahan mulai terkoyak dan mulai kusam, begitu waktu cepat berlalu diantara riuhnya perjalanan hidup.
Ketika liang lahat telah digali, orang-orang membuka keranda yang membawa kakekku. Lalu perlahan memasukkan ke dalamnya. Sungguh, aku merinding, takut luar biasa menyergapku. Seusai memasukkan, mereka menumpuk liang dengan tanah kembali lalu menginjak-injakkan kaki di atas tanah untuk memastikan tanah telah memenuhi liang.
Mati, dimandikan, dikafani, disholati, lalu dikuburkan adalah sesuatu yang sakral. Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Entah kapan, tak pernah ada yang tahu selain Dia. Beranjak pindah dari dunia menuju Allah yang telah menanti kedatangannya.
Beberapa minggu meninggalnya kakekku, tanpa sepengetahuan orang tua, aku bersama saudara perempuanku mempunyai ide gila. Berdua menyusuri areal pasar lalu membeli kembang. Seusai itu, kami selalu memutuskan menjenguk kakek. Kala itu, aku berpikir kembang adalah sesuatu yang dihadiahkan orang yang disayangi. Sehingga, kami berdua membawakan kembang untuk kakek lalu menaburkan di atas kuburannya. Berharap kakek senang dengan kedatangan kami walau aku tak pernah tahu doa apa yang seharusnya disampaikan untuk orang yang meninggal. Namun, di setiap kunjungan gila tanpa orang tua tahu, aku selalu berharap Allah melapangkan kuburannya yang sempit dan gelap itu.
Ide gila tak terhenti di situ, terkadang kami berdua mengambil daun-daun kering satu per satu lalu membuangnya di bak sampah. Kondisi kuburan benar-benar tak terawat, sehingga ide gila itu pun dijalani juga. Bahkan aku sempat dimarahi orang tua karena pulang main terlalu petang, meski mereka tak tahu bahwa aku dan saudaraku membersihkan kuburan dengan mengambili sampah berserakan.
Ketika aku melihat kuburan, payung yang disematkan diantara gundukan tanah, aku selalu saja membayangkan maut akan menjemputku dan seketika itu aku merinding. Bahkan aku sempat berpikiran untuk berada di samping gundukan tanah yang baru saja diletakkan mayat di dalamnya agar aku dapat mendengar pertanyaan malaikat , sehingga ketika aku ditanyai malaikat maka aku dapat menjawabnya dengan benar dan akhirnya lolos ujian.
Ketika keluarga dan saudara-saudaraku berkunjung ke makam kakek buyut di daerah Boyolali, mereka selalu membacakan surat yasin untuknya. Aku tak mengerti mengapa harus begitu, tetapi aku selalu berdoa untuk keselamatannya agar ia ditemani Allah di kuburan kecil itu.
Dan sampai saat ini ketika aku telah berusia genap 21 tahun, aku masih tak mengerti saat aku membaca buku yang menjelaskan kematian, selalu saja ada orang yang menganggapku aneh. Apakah kematian itu juga aneh menurut mereka? Bukankah setiap orang akan mengalami sakratul maut dan setiap sakratul maut pasti akan membawa diri pada kematian? Mati itu beranjak pindah, dari alam dunia ke alam barzakh lalu menemui orang yang dicintai. Siapa yang menolak untuk bertemu dengan orang yang dicintai (Allah)? Pasti tidak ada. Mati itu sesuatu yang selalu mengintai kapanpun kita berada dan setiapa hembusan nafas adalah hembusan jatah umur yang hilang. Semoga kita senantiasa mampu memaknai setiap anugerah kehidupan yang Dia berikan.

1 comment:

  1. What is a no deposit bonus? | dmartian casino and get - Dr.MCD
    There is 충청북도 출장마사지 no gambling bonus for new players to claim 김해 출장마사지 in 강릉 출장샵 2021, so make sure to check the 경산 출장안마 promotions and promotions listed below. 정읍 출장마사지

    ReplyDelete