Sunday, October 20, 2013

Satu Kosa Kata yang Sakral, Menikah!

Kegalauan ini setiap malam menghantuiku dan lebih menyeramkan dari kosku dahulu yang ada 54 kamar dengan banyak hantunya. Kegalauan ini terjadi akibatnya labilnya hati. Ya maklum saja, bagaimana aku tidak galau karena sebentar lagi aku akan menyandang gelar sarjana. Itu artinya, aku sah menjadi jobseeker. Yang lebih membuatku galau adalah banyaknya temanku yang kini menyadang status yang sangat sakral, menikah. Ya wajar saja, menurut undang-undang pernikahan usia 23 sudah diperbolehkan.
Aku bertanya kepada diriku sendiri mengapa sampai saat ini aku masih sendiri. Menyedihkan sekali. Tidak enak rasanya menanggung banyak hal sendirian. Aku telah membaca bertumpuk-tumpuk buku tentang pernikahan. Di dalamnya isinya indah-indah hingga menjadikanku untuk bersegera menjalankan sebagian dari iman itu. Melewati banyak hari dan perasaan bersama seseorang yang sangat menyayangi dan mengasihi kita.
Berbicara soal mengasihi, aku selalu saja menemui bahwa seseorang yang kita kasihi justru mengasihi orang lain. Kita mati-matian merindukan dan mencemaskannya. Padahal yang dirindukan dan dicemaskan saja santai. Bagaimana tidak santai, wong istri/suami saja juga bukan kok.
Menikah itu menjadikan hati tenteram dan ada rasa kecenderungan padanya. Setiap suka dan duka dilalui bersama. Setiap beban dipikul bersama. Semuanya tentang kebersamaan menuju kebaikan dan ridho-Nya. Alangkah bahagianya kita hidup bersama seseorang yang tidak hanya menemani, tetapi juga menyayangi secara tulus karena Allah. Menggantungkan banyak harapan kepada Allah secara bersama-sama. Shalat bersama, puasa bersama, makan bersama, berbagai rasa bersama. Indah sekali bukan?
Aduh, otakku yang single ini menyebabkanku memikirkan segala hal yang indah. Tentang kebersamaan dan tentang rasa ketenteraman. Namun, sampai sekarang aku masih berpikir mengapa diriku tak juga segera menemukan pelabuhan dan sandaran hati. Ada 5 kemungkinan, yang pertama adalah bisa jadi jodohku itu tertahan karena sedang bersama yang lain. Kedua, bisa jadi jodohku belum segera dipertemukan denganku karena sibuk dengan memperbaiki dirinya. Ketiga, bisa jadi doa dan usahaku belum sepenuhnya maksimal. Intinya ya belum benar dalam menjalankan niat dan usaha. Keempat, kau sudah menemukannya, tetapi kau masih menunggu karena tak juga dilamarnya. Kelima, kau sudah mencarinya, tetapi kau tidak peka juga jika ia sesungguhnya dekat.
Dalam menjalin hubungan yang serius alias menikah, kita tidak perlu mencari sosok yang ideal dan sempurna. Sempurna itu milik Maha Sempurna. Dalam mencari sosok pendamping hidup yang setia hanya perlu satu hal yang diperhatikan. Tidak perlu kita mencarinya karena fisik atau hartanya. Hanya perlu satu hal itu, yakni iman. Dengan iman yang baik, dia tidak hanya menyayangimu secara tulus, tetapi juga menjaga hatimu, setia kepadamu, membantumu dalam setiap keluh kesah, menemanimu dalam berbagai keadaan, mengusap lembut hatimu manakala kamu sedang emosional, dan lain sebagainya. Dia akan membuatmu lebih mencintai Sang Maha Cinta. Membimbingmu dalam kebaikan dan senantiasa berdoa kepada Allah agar kamu diberikan banyak kelimpahan nikmat dan kecenderungan hati hanya padanya.
Menikah itu sejatinya untuk membina keluarga bahagia dan memperoleh keturunan yang baik (baik secara emosional, intelektual, dan spiritual). Perasaan saling mencintai tercermin dalam perilaku sehari-hari dari bangun tidur hingga tidur lagi. Apabila rumah tangga terpelihara secara harmonis, kesehatan secara fisik maupun psikis pun juga akan didapatkan. Berdasarkan hasil riset, menikah bisa mengurangi kemungkinan stroke, menurunkan tekanan darah, meningkatkan kesehatan jantung, mengurangi resiko terkena dimensia, menjadikan umur panjang, dsb. Selain mendapat pahala, rumah tangga harmonis berdampak positif secara sosial ekonomi. Menguatkan kepribadian, bahkan mengalirkan rejeki. Subhanallah sekali.
Ternyata menikah itu banyak manfaatnya ya. Semoga kita (yang belum menikah) disegerakan oleh Allah untuk segera bertemu dengan jodoh. Jika belum, itu artinya manfaatkan waktu untuk memperbaiki diri dan iman. Jodoh itu cerminan. Dalam Al-quran juga disebutkan bahwa orang yang baik itu jodohnya juga orang baik pula.
Ya Rabb, jikalau Engkau masih menyembunyikan jodohku, maka itu artinya aku harus berusaha dan berdoa lebih giat lagi. Pertemukan dan jodohkanlah dengan seseorang yang mencintai-Mu hingga karena-MU pula aku mencintainya. Jadikanku golongan orang-orang bersyukur lagi bersabar atas segala ketentuan-Mu. Hanya Engkau tempat bersandar lagi memohon. Engkau pula yang selalu tahu atas ketidaktahuanku. Engkau selalu memberikan apa yang kubutuhkan, bukan yang diinginkan. Atas kehendak-Mu, ikatkanlah hati ini menuju keridhoan-Mu dan segala harap tertuju kepada-Mu. Duhai Maha Penyayang diantara para penyayang, berilah seorang penyayang untukku. Jangan palingkan ia daripadaku manakala lelah menderaku, miskin menghantuiku, dan keriput melanda wajahku. Rabb, lapangkan segala dada yang sempit. Limpahkan rejeki-Mu. Jikalau ia berada di langit, maka turunkanlah. Jika ia berada di bumi, maka keluarkanlah. Duhai Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang tempat yang paling pantas menggantungkan harapan. Semoga kegalauanku ini tidak menjadikanku serta merta berputus asa. Amiin.

Klaten, 18 Oktober 2013
Seorang yang penuh banyak harap
Ditulis begitu saja selama 30 menit hanay untuk mereduksi galau

No comments:

Post a Comment