Kegalauan ini setiap malam menghantuiku dan lebih menyeramkan
dari kosku dahulu yang ada 54 kamar dengan banyak hantunya. Kegalauan ini
terjadi akibatnya labilnya hati. Ya maklum saja, bagaimana aku tidak galau
karena sebentar lagi aku akan menyandang gelar sarjana. Itu artinya, aku sah
menjadi jobseeker. Yang lebih membuatku galau adalah banyaknya temanku yang
kini menyadang status yang sangat sakral, menikah. Ya wajar saja, menurut
undang-undang pernikahan usia 23 sudah diperbolehkan.
Aku bertanya kepada diriku sendiri mengapa sampai saat ini
aku masih sendiri. Menyedihkan sekali. Tidak enak rasanya menanggung banyak hal
sendirian. Aku telah membaca bertumpuk-tumpuk buku tentang pernikahan. Di
dalamnya isinya indah-indah hingga menjadikanku untuk bersegera menjalankan
sebagian dari iman itu. Melewati banyak hari dan perasaan bersama seseorang
yang sangat menyayangi dan mengasihi kita.
Berbicara soal mengasihi, aku selalu saja menemui bahwa
seseorang yang kita kasihi justru mengasihi orang lain. Kita mati-matian
merindukan dan mencemaskannya. Padahal yang dirindukan dan dicemaskan saja
santai. Bagaimana tidak santai, wong istri/suami saja juga bukan kok.
Menikah itu menjadikan hati tenteram dan ada rasa
kecenderungan padanya. Setiap suka dan duka dilalui bersama. Setiap beban
dipikul bersama. Semuanya tentang kebersamaan menuju kebaikan dan ridho-Nya.
Alangkah bahagianya kita hidup bersama seseorang yang tidak hanya menemani,
tetapi juga menyayangi secara tulus karena Allah. Menggantungkan banyak harapan
kepada Allah secara bersama-sama. Shalat bersama, puasa bersama, makan bersama,
berbagai rasa bersama. Indah sekali bukan?
Aduh, otakku yang single ini menyebabkanku memikirkan segala
hal yang indah. Tentang kebersamaan dan tentang rasa ketenteraman. Namun,
sampai sekarang aku masih berpikir mengapa diriku tak juga segera menemukan
pelabuhan dan sandaran hati. Ada 5 kemungkinan, yang pertama adalah bisa jadi
jodohku itu tertahan karena sedang bersama yang lain. Kedua, bisa jadi jodohku
belum segera dipertemukan denganku karena sibuk dengan memperbaiki dirinya.
Ketiga, bisa jadi doa dan usahaku belum sepenuhnya maksimal. Intinya ya belum
benar dalam menjalankan niat dan usaha. Keempat, kau sudah menemukannya, tetapi
kau masih menunggu karena tak juga dilamarnya. Kelima, kau sudah mencarinya,
tetapi kau tidak peka juga jika ia sesungguhnya dekat.
Dalam menjalin hubungan yang serius alias menikah, kita tidak
perlu mencari sosok yang ideal dan sempurna. Sempurna itu milik Maha Sempurna.
Dalam mencari sosok pendamping hidup yang setia hanya perlu satu hal yang
diperhatikan. Tidak perlu kita mencarinya karena fisik atau hartanya. Hanya
perlu satu hal itu, yakni iman. Dengan iman yang baik, dia tidak hanya
menyayangimu secara tulus, tetapi juga menjaga hatimu, setia kepadamu,
membantumu dalam setiap keluh kesah, menemanimu dalam berbagai keadaan,
mengusap lembut hatimu manakala kamu sedang emosional, dan lain sebagainya. Dia
akan membuatmu lebih mencintai Sang Maha Cinta. Membimbingmu dalam kebaikan dan
senantiasa berdoa kepada Allah agar kamu diberikan banyak kelimpahan nikmat dan
kecenderungan hati hanya padanya.
Menikah itu sejatinya untuk membina keluarga bahagia dan
memperoleh keturunan yang baik (baik secara emosional, intelektual, dan
spiritual). Perasaan saling mencintai tercermin dalam perilaku sehari-hari dari
bangun tidur hingga tidur lagi. Apabila rumah tangga terpelihara secara
harmonis, kesehatan secara fisik maupun psikis pun juga akan didapatkan.
Berdasarkan hasil riset, menikah bisa mengurangi kemungkinan stroke, menurunkan
tekanan darah, meningkatkan kesehatan jantung, mengurangi resiko terkena
dimensia, menjadikan umur panjang, dsb. Selain mendapat pahala, rumah tangga
harmonis berdampak positif secara sosial ekonomi. Menguatkan kepribadian,
bahkan mengalirkan rejeki. Subhanallah sekali.
Ternyata menikah itu banyak manfaatnya ya. Semoga kita (yang
belum menikah) disegerakan oleh Allah untuk segera bertemu dengan jodoh. Jika
belum, itu artinya manfaatkan waktu untuk memperbaiki diri dan iman. Jodoh itu
cerminan. Dalam Al-quran juga disebutkan bahwa orang yang baik itu jodohnya
juga orang baik pula.
Ya Rabb, jikalau Engkau masih menyembunyikan jodohku, maka
itu artinya aku harus berusaha dan berdoa lebih giat lagi. Pertemukan dan
jodohkanlah dengan seseorang yang mencintai-Mu hingga karena-MU pula aku
mencintainya. Jadikanku golongan orang-orang bersyukur lagi bersabar atas
segala ketentuan-Mu. Hanya Engkau tempat bersandar lagi memohon. Engkau pula
yang selalu tahu atas ketidaktahuanku. Engkau selalu memberikan apa yang kubutuhkan,
bukan yang diinginkan. Atas kehendak-Mu, ikatkanlah hati ini menuju
keridhoan-Mu dan segala harap tertuju kepada-Mu. Duhai Maha Penyayang diantara
para penyayang, berilah seorang penyayang untukku. Jangan palingkan ia
daripadaku manakala lelah menderaku, miskin menghantuiku, dan keriput melanda
wajahku. Rabb, lapangkan segala dada yang sempit. Limpahkan rejeki-Mu. Jikalau
ia berada di langit, maka turunkanlah. Jika ia berada di bumi, maka
keluarkanlah. Duhai Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang tempat yang paling
pantas menggantungkan harapan. Semoga kegalauanku ini tidak menjadikanku serta
merta berputus asa. Amiin.
Klaten, 18 Oktober 2013
Seorang yang penuh banyak harap
Ditulis begitu saja selama 30 menit hanay untuk mereduksi
galau
No comments:
Post a Comment