Malam ini, mataku sulit terpejam.
Pikiranku masih berada jauh dari lelapku. Aku termenung, sejenak. Aku masih
memikirkan tentang pendefinisian cinta.
Apakah ia bernilai tan 45? Mutlak 1. Ataukah ia seperti tan 90? Yang selalu
saja tak terdefinisi. Entahlah, aku bertanya pada diriku sendiri tak kunjung
jua menemukan jawaban. Apakah ketika kita tidak mengharapkan dicintai (balik)
itulah yang dinamakan cinta? Bodoh. Aku pikir itu hal bodoh, iya bodoh. Yang aku
tahu saat aku membaca setumpuk buku tentang pernikahan menurut Islam, di sana
tertulis bahwa seorang yang satu saling mengasihi seorang yang lain, begitu
sebaliknya, maka ia siap menikah. Jika tidak, maka tinggalkanlah. Seseorang yang
tak bisa mencintai, bagaimanapun juga tidak pernah tahu caranya mencintai.
Aku terhenyak, merenung sejenak. Tentang
cinta, tentang menikah. Aku pikir cinta itu sederhana. Hanya aku dan kamu,
tetapi tidak. Buat apa kita mencintai jika kita terhenti. Berpikir dua kali
untuk melepas ranting hati. Bukan soal yang mudah memang saat kita mengambil
keputusan untuk menuju hati yang diridhoi Tuhan. Tapi, bagaimana aku tahu
hatimu jika kamu saja seolah tidak peduli padaku. Lebih tepatnya seperti tidak
menginginkanku.
Aku bertahan. Menguatkan diri,
menguatkan hati. Siapa tahu kau tidak tahu letak kesalahanmu. Aku senantiasa
berharap kepada Tuhan agar hanya kau yang bisa memelukku lebih lama, tanpa
jeda, tanpa diburu masa. Aku berdoa kepada Tuhan atas segala fluktuatifnya
hati. Hati yang bisa saja ditambahkan, dikurangkan, dilalaikan, dan
dipalingkan. Apalagi dipalingkan daripadamu.
Aku, kau. Tak mengapa bagiku jika
kau tak pernah tahu perasaan apa yang selama ini kutanggung. Aku meyakinkan
diri, mungkin ketidaktahuanmu itu terjadi akibat kesibukanmu. Aku berpikir
ulang, inikah cinta? Selama ini aku tak pernah tahu apa itu cinta. Yang aku
tahu, bersamamu itu adalah suatu hal yang sangat istimewa dan menyenangkan.
Aku berpikir, saat mencintai
apakah di sana ada rindu? Soalnya aku sangat sering merindukanmu. Seringkali kau
menjadi bagian dalam bunga tidur. Aku bertanya pada diri. Inikah cinta? Meski selama
ini yang kutahu adalah kau tak pernah merindukanku. Terkadang orang yang
dirindui itu tidak sudi menerima rindu. Dia memilih merindukan seseorang yang
jelas-jelas tak pernah kembali. Masa lalu.
Masa lalu. Sekali kau terseret di
dalamnya, kau tak akan pernah bisa kembali. Apakah masa lalu itu berharga?
Bagiku, ia memang berharga karena masa lalu menjadikan sosok yang kuat dan
memiliki pengalaman hidup. Namun, masa lalu tak perlu diulang, bukan?
Oh, sudahlah. Mengingat masa
lalumu hanya akan menyesakkan rongga dadaku. Aku kembalikan fitrahnya hati
kepada pemilik hati. Aku kembalikan rindu kepada pemilik rindu agar senantiasa
bernyawa. Sia bagiku jika hanya menggantungkan banyak rasaku kepada seseorang
yang sebenarnya tak pernah mengerti siapa aku, seorang manusia yang seperti
apa.
Duhai Tuhanku, Engkau selalu tahu
atas apa yang tidak aku ketahui. Jika ia adalah seorang yang baik dan membuatku
lebih dekat dengan-Mu, maka dekatkanlah. Jika tidak, berikanlah pengganti yang
baik. Atas apa yang luput daripadaku itu adalah sebuah pembelajaran dan
perjalanan hidup. Ritme yang dinamis. Duhai Tuhan yang Maha Cinta diatas Segala
Cinta.

No comments:
Post a Comment