Thursday, October 17, 2013

Tentang Cinta –Tentang Rasa yang Tertanggung-

Malam ini, mataku sulit terpejam. Pikiranku masih berada jauh dari lelapku. Aku termenung, sejenak. Aku masih memikirkan tentang pendefinisian cinta.  Apakah ia bernilai tan 45? Mutlak 1. Ataukah ia seperti tan 90? Yang selalu saja tak terdefinisi. Entahlah, aku bertanya pada diriku sendiri tak kunjung jua menemukan jawaban. Apakah ketika kita tidak mengharapkan dicintai (balik) itulah yang dinamakan cinta? Bodoh. Aku pikir itu hal bodoh, iya bodoh. Yang aku tahu saat aku membaca setumpuk buku tentang pernikahan menurut Islam, di sana tertulis bahwa seorang yang satu saling mengasihi seorang yang lain, begitu sebaliknya, maka ia siap menikah. Jika tidak, maka tinggalkanlah. Seseorang yang tak bisa mencintai, bagaimanapun juga tidak pernah tahu caranya mencintai.
Aku terhenyak, merenung sejenak. Tentang cinta, tentang menikah. Aku pikir cinta itu sederhana. Hanya aku dan kamu, tetapi tidak. Buat apa kita mencintai jika kita terhenti. Berpikir dua kali untuk melepas ranting hati. Bukan soal yang mudah memang saat kita mengambil keputusan untuk menuju hati yang diridhoi Tuhan. Tapi, bagaimana aku tahu hatimu jika kamu saja seolah tidak peduli padaku. Lebih tepatnya seperti tidak menginginkanku.
Aku bertahan. Menguatkan diri, menguatkan hati. Siapa tahu kau tidak tahu letak kesalahanmu. Aku senantiasa berharap kepada Tuhan agar hanya kau yang bisa memelukku lebih lama, tanpa jeda, tanpa diburu masa. Aku berdoa kepada Tuhan atas segala fluktuatifnya hati. Hati yang bisa saja ditambahkan, dikurangkan, dilalaikan, dan dipalingkan. Apalagi dipalingkan daripadamu.
Aku, kau. Tak mengapa bagiku jika kau tak pernah tahu perasaan apa yang selama ini kutanggung. Aku meyakinkan diri, mungkin ketidaktahuanmu itu terjadi akibat kesibukanmu. Aku berpikir ulang, inikah cinta? Selama ini aku tak pernah tahu apa itu cinta. Yang aku tahu, bersamamu itu adalah suatu hal yang sangat istimewa dan menyenangkan.
Aku berpikir, saat mencintai apakah di sana ada rindu? Soalnya aku sangat sering merindukanmu. Seringkali kau menjadi bagian dalam bunga tidur. Aku bertanya pada diri. Inikah cinta? Meski selama ini yang kutahu adalah kau tak pernah merindukanku. Terkadang orang yang dirindui itu tidak sudi menerima rindu. Dia memilih merindukan seseorang yang jelas-jelas tak pernah kembali. Masa lalu.
Masa lalu. Sekali kau terseret di dalamnya, kau tak akan pernah bisa kembali. Apakah masa lalu itu berharga? Bagiku, ia memang berharga karena masa lalu menjadikan sosok yang kuat dan memiliki pengalaman hidup. Namun, masa lalu tak perlu diulang, bukan?
Oh, sudahlah. Mengingat masa lalumu hanya akan menyesakkan rongga dadaku. Aku kembalikan fitrahnya hati kepada pemilik hati. Aku kembalikan rindu kepada pemilik rindu agar senantiasa bernyawa. Sia bagiku jika hanya menggantungkan banyak rasaku kepada seseorang yang sebenarnya tak pernah mengerti siapa aku, seorang manusia yang seperti apa.
Duhai Tuhanku, Engkau selalu tahu atas apa yang tidak aku ketahui. Jika ia adalah seorang yang baik dan membuatku lebih dekat dengan-Mu, maka dekatkanlah. Jika tidak, berikanlah pengganti yang baik. Atas apa yang luput daripadaku itu adalah sebuah pembelajaran dan perjalanan hidup. Ritme yang dinamis. Duhai Tuhan yang Maha Cinta diatas Segala Cinta.

No comments:

Post a Comment